Merawat Ingatan,
Menyuarakan Sejarah
Ensiklopedia digital yang mendedikasikan ruang untuk mendokumentasikan, mengkaji, dan merawat memori kolektif tentang Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan peran perempuan dalam sejarah bangsa.
Mulai Membaca
10 Oktober—26 Desember 2026 · 12 sesi
Simposium Gerwani
Membaca ulang sejarah, menghidupkan arsip, dan merawat ingatan bersama.
Teks Pilihan
Lihat SemuaSurat dari New York: Pemuda Amerika Serikat & Perdamaian
Oleh: -
Dari Redaksi: Baru-baru ini Redaksi A.K. menerima surat dari pemudi Bettina Apotheker dari New York. Fotokopi dari surat pada A.K. itu kami muat di bawah ini, sedangkan isi surat kami salin ke dalam bahasa Indonesia dengan judul: Pemuda Amerika & Perdamaian. Dari surat itu dapat kita ketahui bahwa juga pemuda Amerika tidak bersikap acuh-tak-acuh terhadap perjuangan untuk perdamaian. Selanjutnya ikutilah surat Bettina di bawah ini. BENCANA PERANG tidak menjamah bumi Amerika untuk selama hampir seratus tahun. Kabut peperangan yang mengerikan yang menenggelamkan umat manusia dalam darah merupakan hal yang asing bagi pemuda Amerika. Pembangunan militer yang dibutuhkan untuk pertahanan dan serangan Amerika dalam Perang Dunia II memberi angin bagi perekonomian yang lamban ketika bangsa berjuang untuk keluar dari Depresi Besar. Pendek kata, peperangan itu menguntungkan Amerika! Tetapi pada waktu ini semakin banyak pemuda yang menyadari kengerian peperangan, dan ketidakmasukakalnya peperangan itu di dunia modern. Mereka itu melakukan perjuangan yang militan untuk perdamaian, dan untuk perlucutan senjata yang umum dan lengkap. Diteruskannya percobaan-percobaan nuklir yang menambah jumlah radioaktivitas di dalam atmosfer telah menggugah pemuda Amerika terhadap bahaya atom. Pembeberan kesusastraan dan film yang sangat menarik dari negara-negara yang dilanda oleh peperangan kepada anak-anak muda membuat sadar banyak dari mereka itu tentang kengerian-kengerian dari peperangan. Suatu persentase yang amat besar dari kepentingan-kepentingan ekonomi Amerika terjalin di dalam persenjataan. Kaum kapitalis yang menguasai industri-industri tersebut merupakan kekuatan pro-perang yang sangat berpengaruh, dan berbuat segala-galanya di dalam perjuangan mereka yang tak kunjung henti terhadap perdamaian. Pejuang-pejuang anti-perang di Amerika Serikat telah membuktikan mempunyai keberanian dan keuletan yang besar di dalam perjuangan mereka. Fitnahan, panitia-panitia penyelidika, dan penjara tidak menghentikan adanya gerakan yang makin meluas. Komite Nasional untuk Politik Nuklir yang sehat telah mengadakan pertemuan di New York pada Musim Semi 1960 yang dikunjungi oleh dua puluh ribu orang. Kemudian disusul oleh arak-arakan ke PBB. Kejadian yang demikian itu di dalam kehidupan Amerika tidaklah terjadi dalam 20 tahun ini. Pada musim gugur tahun 1960, 2000 orang berbaris di San Francisco, California untuk perdamaian. Dalam banyak kota-kota besar beribu-ribu orang Amerika berbaris pada parade Hari Paskah menuntut perlucutan senjata segera. Pada bulan April 1961 terjadi demonstrasi yang bersemangat di City Hall Park New York dari 3000 orang menentang Pertahanan Sipil. Untuk berminggu-minggu lamanya Markas Besar Pertahanan Sipil di Manhattan dikepung. Pada 5 Agustus 1961 beratus-ratus orang Amerika di seluruh Amerika melakukan jaga malam selama 24 jam untuk memperingati 300.000 korban di Hiroshima dan Nagasaki. Di dalam semua demonstrasi tersebut kaum pemuda menjalankan peranan utama. Juga sangat besar artinya perhatian yang makin memuncak dari orang-orang muda dari segala tingkat penghidupan, yang memiliki pandangan-pandangan politik yang berbeda-beda, di dalam menggabungkan diri di dalam perjuangan bersama untuk perdamaian. Di ruang-ruang kuliah, di ruang-ruang kelas sekolah menengah, dalam grup-grup dan klub-klub studi kebutuhan akan perdamaian diperbincangkan. Dan diskusi-diskusi itu disusul oleh aksi positif. Kita telah mencapai sukses dalam membentuk organisasi nasional untuk perdamaian yang tunggal. Jalan yang kita tempuh penuh dengan lika-liku dan pusaran-pusaran air yang berbahaya. Kita harus menempa di dalam hutan belantara dan membangun suatu jalan besar yang kuat. Kita melihat cakrawala.
1961
Menengok Sedjenak Kebelakang
Oleh: Kukilowarsi
Menjelang peringatan Hari Besar Nasional yang bersejarah ini marilah kita menengok ke belakang sebentar kejadian-kejadian 14 tahun yang lampau. Hari 17 Agustus tahun ini tidak hanya mengenangkan kepada kita akan peristiwa-peristiwa besar yang terlukis dalam sejarah, akan tetapi lebih dari itu, terutama dengan semangat kembali ke UUD 45 ini mengenangkan kembali kepada kita akan kekayaan revolusi Indonesia dengan peristiwa-peristiwa kepahlawanan Rakyat yang tak dapat kita lupakan. Barangkali pembaca sudah sering mendengar ulasan-ulasan kembali tentang detik-detik bersejarah ketika menghadapi pelaksanaan proklamasi, satu dua hari sebelum menjelang 17 Agustus, 17 Agustus pada pagi harinya, dengan segenap kesibukan-kesibukannya. Di antara rentetan peristiwa-peristiwa dan peranan-peranan kepahlawanan itulah tidak pula kita lupakan keberanian pahlawan-pahlawan wanita dan peranan massa kaum wanita yang mengambil bagian dalam peristiwa-peristiwa perjuangan yang menentukan. Ya, sebenarnya peranan wanita yang ikut serta berjuang untuk kemerdekaan nasional tidak hanya semenjak Revolusi Agustus sudah meletus. Sebelumnya itu bukankah kita sudah mendengar tentang wanita-wanita pada pemberontakan tahun 1926 yang dengan senyum di bibir menaiki tiang gantungan dan mereka yang dibuang 15 tahun penjara atau di Digulkan. Dan sesaat menjelang meletusnya revolusi ini, waktu memuncaknya krisis kekuasaan fasis Jepang yang menghadapi keruntuhannya, kita dapat bayangkan betapa kejam tentara Jepang menyiksa dan membunuh Rakyat. Memang tidak banyak terdengar cerita-cerita mengenai wanita yang berjuang mematahkan jeruji besinya kenpetai untuk kemenangan 17 Agustus. Padahal andaikan berjasalah seseorang yang berhasil menggali sejarah kepahlawanan di masa ini, sebenarnya kita di Indonesia tidak kalah mempunyai pahlawan-pahlawan anti fasis. Kita juga mempunyai Julius Fucik dan kita punya Hanni Schaft Indonesia. Hanya saja alat-alat perjuangan di bawah tanah tentunya tak semodern seperti di Eropa. Meskipun demikian dengan tekad dan hanya sumpah berani mati mereka melawan kekuasaan fasis Jepang, sampai datangnya matahari kemerdekaan yang terbit pertama kalinya pada tanggal 17 Agustus 1945. Lalu masuklah kenangan kita pada fajarnya 17 Agustus sampai seterusnya. Siapa saja yang ingat akan barisan-barisan laskar-laskar tentunya ingat pula bahwa di dalam barisan laskar-laskar itu selalu ada barisan-barisan wanita. Entah ia bekerja dalam palang merah, entah wanita-wanita dulu itu di garis depan bekerja di dapur umum. Pokoknya di mana saja genderang revolusi berbunyi di situ selalu terdapat jejak wanita tak ketinggalan. Pernahkah pembaca mendengar tentang Barisan Wanita Brigade S? Inilah Barisan Gerilya wanita yang paling ditakuti tentara kolonial Belanda. Ada pula seorang gadis dari pasukan PMI dari front Semarang ia bernama Suparmi. Ia adalah anak seorang petani sedang. Setelah keluar dari Sekolah Rakyat selama itu pekerjaannya hanya membantu orangtuanya di rumah. Tetapi begitu keramat seruan tentang panggilan tanah air sehingga ia meninggalkan segala-galanya menggabungkan diri ke dalam pasukan garis depan, sedang orangtuanya, sanak saudaranya mengungsi entah ke mana. Begitu bangga ia berpakaian celana gerilya, baju hijau dengan pitji hitam. Hilanglah seketika sifat-sifatnya pemalu, rasa rendah diri, gayanya semula sebagai gadis desa. Dan gadis ini akhirnya meninggal karena jatuhnya bom yang memutuskan paha sebelah kirinya. Ia meninggal di salah satu front dengan sedikit pun tidak menyesal. Entah apakah ia juga tertulis dalam buku pahlawan. Pembaca, ada lagi cerita Rakyat di Surabaya. Tapi ada seorang ibu dari 2 orang anak, rumahnya petak dengan 2 kamar kecil-kecil. Begitu mendadak serangan pasukan Gurkha yang menghujani Rakyat dengan peluru dan mortir. Tapi ada seorang ibu bertekad tidak mengungsi dan tinggal tetap dalam rumahnya membantu anak-anaknya yang menjadi anggota pasukan perlawanan Rakyat. Semboyannya dari beras dan jagung untuk peluru dan mortir dan tungku menjadi penyimpannya. Tangannya amat rajin memasukkan peluru-peluru ke dalam lubang brengun. Dan sedikit pun tidak merasa takut tapi ia terpaksa juga meninggalkan tempat tinggal yang dicintainya. Karena rumahnya sudah menjadi abu. Begitulah dengan bersenjatakan semangat '45 ini, kaum wanita kita yang telah makin sadar akan tanggung jawabnya dalam ikut serta membela keselamatan negaranya, ikut mencapai kemerdekaan nasional serta ikut memelihara demokrasi bersama-sama dengan seluruh Rakyat, mengorganisasi dirinya dalam barisan-barisan yang lebih teratur. Detik-detik bersejarah mulai dari saat kaum wanita mengorganisasi dirinya dalam Kongres Perempuan Indonesia yang pertama pada tahun 1928 sampai kepada kegiatan-kegiatan serta aksi-aksi mereka dalam perjuangan untuk memelihara perdamaian, pada saat mereka untuk pertama kali menggunakan hak pilih dan dipilih pada tahun 1955, di kala mereka menunjukkan rasa setia kawannya kepada kaum wanita di negeri-negeri lain yang bercita-cita sama dan ketika mereka mengadakan kegiatan-kegiatan untuk menuntut Undang-undang Perkawinan yang demokratis, kesemuanya ini akan tetap bergelora dalam ingatan kita dan menjadi kenang-kenangan yang senantiasa memberi dorongan dan semangat bagi setiap wanita kita untuk maju terus. Begitulah revolusi memang banyak membawa korban dari Rakyat. Tetapi satu hal bahwa kemenangan adalah pasti dan seperti halnya menjadi kewajiban yang memanggil wanita-wanita kita di seluruh barisan untuk mengambil bagian dalam melakukan perlawanan terhadap Belanda. Maka sekarang ini dalam rangka kembali ke UUD '45 adalah kewajiban kita kaum wanita untuk berjuang terus menegakkan demokrasi dan kemerdekaan Republik Indonesia.
1959
Buku Pilihan
Lihat SemuaThe End of Silence: Accounts of the 1965 Genocide in Indonesia
Soe Tjen Marching
In the late 1960s, between one and two million people were killed by Indonesian president Suharto's army in the name of suppressing communism-and more than fifty years later, the issue of stigmatisation is still relevant for many victims of the violence and their families. The End of Silence presents the stories of these individuals, revealing how many survivors from the period have been so strongly affected by the strategy used by Suharto and his Western allies that these survivors, still afraid to speak out, essentially serve to maintain the very ideology that led to their persecution.
Sexual Politics in Indonesia
Saskia Wieringa
This book analyzes the interaction between nationalism, feminism and socialism in Indonesia since the beginning of the twentieth century until the New Order State of President Suharto. The focus is on the communist women's organization Gerwani, which was by 1965 the largest communist women's organization in the non-communist world. Gerwani members combined feminist demands such as a reform of the marriage law with an insistence upon a political role for women. The organization was destroyed in a campaign of sexual slander orchestrated by the military under General Suharto. Hundreds of thousands of people were killed. President Sukarno lost his power and General Suharto took over.
Artikel Pilihan
Lihat SemuaWomen’s Rights in Indonesia in the 1950s: The Progression and Stagnation of the Government’s Actions, and the Effects of Class, Race, and Feminism within the Women’s Rights Movement
Oleh: Jessica Rijs
In the newly created nation state of Indonesia, women’s rights were initially incorporated in the 1945 constitution and subsequent legislation such as the equal pay act and unbanning women’s organisations. However, these initial steps received no follow through from the government. The progression of women’s rights stagnated due to inefficient government action, women not getting elected to government, and the indecision about changing marriage law. I will argue that this stagnation was because of three main contentions surrounding women’s issues. Firstly, factors such as religion created splits in the women’s movement and prevented them from appearing as a homogenous group,...
Chariot Journal
Umi Sardjono (1923–2011) and the Quest to Build a New Society for Indonesian Women
Oleh: Katharine McGregor dan Ruth Indiah Rahayu
This chapter presents a biography of Umi Sardjono, one of the most important women activists on the political left in Indonesia in the period of 1940s to 1960s. We focus on her ongoing efforts to build a new, more just society for Indonesian women, based on a strong commitment to the rights of working women. She believed this goal could only be achieved by ending imperialism and implementing a socialist society. As Head of one of the most progressive women’s organizations, Gerakan Wanita Indonesia (The Indonesian Women’s Movement, Gerwani), Umi Sardjono advocated for reforms and ongoing struggles against the sources...
The Palgrave Handbook of Communist Women Activists from Around the World



