Rasialisme di Negeri Dollar
Selagi Rakyat sendiri kita dikejutkan dan dengan keras memprotes tindakan-tindakan gerakan rasialis yang terjadi terutama di Jawa Barat pada tanggal 10 Mei tahun ini, maka di Amerika Serikat, di negeri yang digembar-gemborkan sebagai “dunia bebas” dengan “Peradaban Barat yang tinggi,” sebagian penduduknya karena berkulit hitam, juga mengalami tindakan-tindakan diskriminasi rasial yang sangat kejam. Kejadian pada tanggal 12 Mei 1963 malam, di mana di Birmingham, Alabama, tempat tinggal kaum Negro dibakar oleh bom yang dilemparkan oleh Ku Klux Klan tidak hanya mendorong bangkitnya perjuangan yang lebih gagah berani lagi dari kaum Negro di sana, tetapi telah pula menimbulkan amarah dan protes di seluruh penjuru dunia, terutama di negeri-negeri Asia, Afrika dan Amerika Latin. Memang, tak ada kiranya orang yang masih berakal sehat, berperasaan jujur, dan adil yang tidak akan merasa tersinggung oleh kejadian-kejadian demikian itu. Hal ini sampai pula pada membuka mata sementara orang yang masih percaya terhadap “demokrasi” yang berlaku di AS itu.
Masalah Negro di AS bukannya seperti sangkaan sementara orang, hanya menyangkut diskriminasi berupa tidak boleh bepergian di satu kereta atau makan di satu meja bersama dengan orang-orang Amerika berkulit putih. Ia adalah masalah pengingkaran terhadap hak-hak. Suatu pengingkaran yang dilakukan dengan jalan kekerasan baik yang tidak resmi maupun oleh polisi dan pejabat-pejabat setempat.
Masalah ini merupakan masalah besar karena menyangkut sebagian penduduk yang berjumlah 19 juta di Amerika Serikat yang berarti 10% lebih dari jumlah seluruh penduduk AS. Di banyak daerah, terutama di negara bagian di Selatan mereka merupakan mayoritas penduduknya. Contoh-contoh betapa jauh diskriminasi rasial ini dijalankan terhadap orang-orang Negro di AS telah diungkapkan dalam surat kabar Daily Worker tanggal 14 Mei 1963 di London. Dalam sebuah ulasan mengenai kejadian-kejadian di Alabama dapat kita baca bahwa di beberapa negara bagian di Selatan AS di mana terdapat banyak penduduk Negro, yaitu di Virginia, di Carolina Utara dan Selatan, di antara 400.000 buruh tekstil, tidak terdapat seorang pun orang Negro.
Di beberapa perusahaan di bagian Selatan AS ini, alat-alat negara penjaga keamanan ditempatkan untuk mencegah orang-orang Negro memasukinya. Di suatu pabrik baja, seorang buruh Negro setelah berdinas selama 20 tahun mendapat promosi dari petugas membersihkan kakus menjadi penyapu.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, tuntutan orang Negro untuk mendapatkan hak pilih dan dipilih mulai menonjol lagi di dalam kehidupan politik Amerika, karena di banyak tempat hanya segenggam orang Negro saja yang telah berhasil untuk dicatat pada daftar pemilih.
Di Jackson, Mississippi, di mana 69% penduduk terdiri dari orang Negro, tidak terdapat satu pun pemilih Negro. Dalam 200 kabupaten di negara bagian di Selatan, ditaksir adanya hanya satu dari setiap 6 orang Negro yang berhasil masuk daftar pemilih. Dan apa yang terjadi bilamana orang-orang Negro mengadakan kampanye untuk memperoleh hak-haknya agar terdaftar sebagai pemilih. Jawabannya diberikan sendiri oleh Komisi Hak-hak Sipil AS. yang menyatakan: “Ada terdapat warga negara AS yang ditembak, dipukul, dikejar-kejar oleh anjing-anjing galak dan diteror dengan cara-cara lain, karena mereka berusaha memperoleh hak memilih dan dipilih.”
Juga kejadian-kejadian di Alabama baru-baru ini ada sangkut pautnya dengan soal tuntutan hak memilih dan dipilih, sebab walaupun pemerintahan daerah di sana tidak bisa berkuasa lagi karena kurang mendapat suara, tetapi kepala polisinya yang tidak sudi turun takhta dan ingin terus berkuasa serta mempertahankan kekuasaan yang lama. Kejadian-kejadian ini memberi pelajaran kepada kita bahwa kaum imperialis AS tidak hanya terus menjalankan politik perangnya serta tindakan-tindakan agresif terhadap negeri-negeri lain, tetapi juga di negerinya sendiri, merekalah yang menginjak-injak hak asasi manusia, daripada sebagian penduduk di AS yang sangat kejam sampai pun teror pembakaran dan pembunuhan terhadap orang Negro.
Hal ini lebih mendorong kepada kita untuk mengutuk kita sendiri yang dijalankan di bawah kedok membela kepentingan-kepentingan orang bumiputera. Kita sependapat dengan ucapan pemimpin-pemimpin Rakyat kita yang mengingatkan bahwa gerakan rasialis sebagaimana baru-baru ini kita alami didalangi oleh kaum imperialis dan merupakan kegiatan yang kontrarevolusioner. Karena itu kita mendukung anjuran Bapak Presiden Sukarno untuk menumpas habis kontrarevolusioner yang sangat merugikan perjuangan Rakyat kita.
Telah menjadi tradisi setiap tahun pada akhir bulan Mei diselenggarakan sebuah gelanggang buku, pekan pameran penerbitan-penerbitan, serta toko-toko buku maupun buku-buku dari luar negeri. Demikian pula selama pekan akhir Mei ini di Gedung Pemuda diadakan pameran buku seribu satu macam, baik mengenai politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, sampai soal-soal kewanitaan maupun buku kanak-kanak. Melihat-lihat gelanggang buku para pengunjung tidak hanya diajak membaca hasil karya sastrawan angkatan dahulu maupun penulis baru, di samping mengagumi pula hasil penerbitan dari luar negeri, tetapi sekaligus tertanam pikiran bagaimana memupuk serta mengembangkan kegemaran membaca terutama di kalangan wanita. Sering kali disebut-sebut bahwa memang kaum wanita terutama para ibu-ibu yang mempunyai banyak anak-anak tak sedikit pun waktu tersisa untuk membaca. Tetapi ada pula sementara para ibu atau wanita-wanita yang sesungguhnya banyak waktu terluang, tetapi sama sekali tak mempunyai minat terhadap buku ataupun membaca sebagai kegemaran. Memupuk kegemaran membaca sebaiknya dimulai sejak kecil. Dalam pendidikan sehari-hari anak gadis kita jangan dibiasakan memberikan perhatian hanya kepada barang lahir saja, tetapi juga bagaimana mengembangkan bakat serta pengetahuannya dalam berbagai hal, dan untuk itu kegemaran membaca merupakan cara sebaik-baiknya untuk menambah pengetahuan. Santapan mental tak kurang pentingnya daripada makanan sehari-hari. Kita sekarang sudah hidup dalam masyarakat yang luas, tidak hanya terbatas kepada lingkungan keluarga atau kerabat saja, melainkan sudah dalam lingkungan bangsa yang berhubungan dengan bangsa-bangsa lainnya.
Dalam gelanggang buku meskipun tak banyak, terdapat pula berbagai buku-buku yang seharusnya dibaca oleh kaum wanita. Malah dari buku karya Ibu Kartini, “Dari gelap terbitlah terang”, juga terdapat buku-buku jilid karya Pramoedya Ananta Toer, "Panggil aku Kartini saja", juga buku pahlawan-pahlawan wanita, umpama Cut Nyak Dien, buku-buku yang berhubungan dengan kewanitaan umpama Kedudukan Wanita dalam Hukum. Kupasan-kupasan tentang UUD Perkawinan maupun buku-buku hasil karya sastrawan-sastrawan wanita seperti Rukiah Kertapati, Sugiarti Siswadi ataupun penulis-penulis wanita lainnya. Di samping itu banyak soal mengenai kesehatan, makanan, serta pekerjaan tangan diterbitkan oleh berbagai penerbitan. Itulah minimum yang pantas mendapat perhatian para wanita. Sedikit demi sedikit kegemaran membaca harus dibangkitkan. Dimulai dari membaca koran setiap hari meskipun mencuri waktu bila anak sudah tidur atau sedang di kamar kecil. Pada pokoknya janganlah ada hari lewat tanpa kita membaca sesuatu pun. Karena sekali dua kali kita lewatkan hari dengan tak memperhatikan kejadian-kejadian di negeri kita sendiri maupun kejadian-kejadian hangat di jauh tanah air, akhirnya kita akan tenggelam hanya dalam tetek bengek perhatian masalah kecil-kecil atau percekcokan tetangga saja.
Benarlah bahwa harga-harga buku kini membubung tinggi dan slogan kita adalah “...turunkan harga buku” yang kita perjuangkan bersama-sama dengan pelajar-pelajar maupun orang tua murid. Gelanggang buku membangkitkan keinginan kita untuk tahu lebih banyak, untuk senantiasa mempunyai kegemaran membaca hasil karya yang berguna bagi perjuangan.