Sedikit tentang Gerakan Wanita Indonesia
Hari Sumpah Pemuda tahun ini dirayakan dalam saat-saat situasi tanah air kita menghadapi pekerjaan yang hebat yaitu pelaksanaan Dwikora untuk menghancurkan "Malaysia" dan mengganyang kesulitan ekonomi. Mudah-mudahan hikmah dari peringatan Hari Sumpah Pemuda ini dapat mempertinggi semangat dan daya juang kaum wanita untuk melawan imperialisme, kolonialisme, neo-kolonialisme dan feodalisme.
Dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda tahun 1964 ini perlu kiranya kita ungkap kembali sejarah perjuangan gerakan kaum wanita. Dan khususnya sejarah dan perjuangan Gerwani. Sejarah lahir dan perkembangan Gerwani penting untuk dikenal oleh para kader, aktivis anggota-anggotanya juga oleh massa wanita umumnya. Karena di samping mengenal gerakan nasional penting pula mengenal sejarah gerakan wanita yang tidak terpisahkan dengan gerakan Nasional kita.
Sejarah ini meliputi tiga tingkatan, yang dapat diuraikan sebagai berikut:
I. Sebelum Perang Dunia kedua.
II. Zaman Jepang.
III. Sesudah Perang Dunia kedua.
Mengenal ini berarti memahami sebabnya Gerakan Wanita dan khususnya Gerwani lahir, tumbuh dan terus berkembang, ialah pada tanggal 4 Juni 1950 Gerwis lahir. Tahun tersebut dinyatakan dalam Manipol sebagai permulaan periode survival revolusion yang artinya menurut PJM. Presiden Sukarno ialah: "merebut dan mempertahankan kekuasaan dan tetap hidup, tidak mati, tahun untuk menyembuhkan luka-luka, kita sulami mana yang bolong, kita tutup mana-mana yang jebol. (Manipol Penerbitan Dep. Pen. Hal. 28).
Gerwani lahir sebagai penerus jejak gerakan wanita revolusioner yang bangkit pada permulaan abad ke-20, sejak zaman Ibu Kartini.
Tingkat I: Sebelum Perang Dunia ke-II lahirnya R.A. Kartini pada tanggal 21 April 1879, perintis emansipasi wanita yang tidak hanya dikenal oleh wanita Indonesia, tetapi juga wanita dari berbagai negeri. Kartini dengan cita-citanya yang tinggi telah memberi inspirasi kaum wanita zaman sekarang, dengan cita-citanya, pikiran-pikirannya yang jernih terhadap soal-soal:
1. Perbaikan kedudukan wanita dalam perkawinan.
2. Persamaan hak-hak wanita dalam pengajaran/pendidikan di sekolah dll.
Cita-cita Kartini yang merintis perjuangan nasional selanjutnya, telah mendjiwai lahirnya berbagai golongan perkumpulan wanita di kalangan intelektual, di kalangan keagamaan dan perkumpulan-perkumpulan daerah yang lokal yang menjadi bagian dari Partai-Partai Politik yang berjuang untuk kemerdekaan.
Timbulnya gerakan emansipasi revolusioner. Ibu Munasijah yang menjadi Ketua Sarekat Rakyat di Semarang meletakkan dasar bahwa perjuangan wanita tak dapat dipisah-pisahkan dengan gerakan Rakyat umumnya untuk menuntut kemerdekaan Tanah Air. Di samping itu juga memperjuangkan hak-hak wanita dan merebut hak-hak wanita sebagai manusia. Selanjutnya pada tahun 1932 ada organisasi wanita politik yang merupakan penerus benih-benih revolusioner, ialah Isteri Indonesia yang mempunyai dasar perjuangan revolusioner, untuk mencapai hak-hak demokrasi dan menuju Indonesia Raya yang merdeka. Dan dengan berani melawan pemerintah kolonial Belanda.
Sesudah lahirnya Hari Sumpah Pemuda tahun 1928 yang merupakan manifestasi persatuan nasional untuk menjawab tantangan Kolonialis Belanda, maka pada tanggal 22 s/d 25 Desember 1928 Kongres Perempuan menyelenggarakan kongresnya yang ke-I di Yogyakarta. Kongres ini belum mencampuri soal-soal politik.
Berdasarkan keadaan itu, maka di luar PPII, didirikan organisasi-organisasi wanita yang mempunyai tujuan kesadaran wanita Indonesia dan untuk mempertinggi derajat hidup Rakyat Indonesia untuk melaksanakan dan menyempurnakan Indonesia Merdeka. Organisasi ini bernama "Isteri Sedar" didirikan pada tanggal 22 Maret 1930. Pasca tahun 1933 berdiri Mardi Wanita yang kemudian pada kongresnya tahun 1935 menjadi Persatuan Marhaenis Indonesia, yang dipimpin oleh Ibu Reksokusumo, Ibu Sri Panggian, Ibu S.K. Trimurti dll. Perkumpulan inilah yang mendasarkan perjuangannya tidak hanya mengenai kewanitaan, tetapi menjadi penerus benih-benih perjuangan emansipasi wanita revolusioner dengan melaksanakan tuntutan-tuntutan program politik untuk kemerdekaan Tanah Air.
Tingkat ke-II: Di zaman Jepang perkumpulan-perkumpulan wanita tidak aktif. Jepang mendirikan satu organisasi dinamakan "Fudjingkai". Pada umumnya pimpinan Gerwani sekarang ini tak ada yang masuk ke dalamnya. Pada zaman ini kaum wanita mengalami kehidupan yang gelap-gulita. Mereka menjadi korban keganasan fasis Jepang, dijadikan sumber tenaga murah, dan umpan hawa nafsu. Garis Front Anti Fasis dengan dukungan Indonesia terus berjuang melawan Jepang untuk kemerdekaan.
Tingkat III: Sesudah Perang Dunia ke-II di mana kemerdekaan Tanah Air sudah diproklamasikan dengan perjuangan Rakyat Indonesia yang serentak. Kaum wanita mengambil bagian aktif dalam perjuangan ini, baik di garis belakang maupun di garis pertempuran, menjadi laskar-laskar bersenjata melawan musuh. Di samping itu lahir berbagai organisasi wanita : Perwari, PPI, BBW, dll. yang kemudian pada tanggal 24 Februari 1964 di Solo diadakan Konferensi yang berhasil membentuk badan Kongres Wanita yang disingkat KOWANI. Kowani menyatakan diri berdiri 100% di belakang RI dan menuntut Kemerdekaan 100% dan menyatakan masuk menjadi anggota G.W.D.S. yang ketika itu ternyata revolusioner dan mendukung perjuangan kaum wanita Indonesia. Perjuangan Kowani yang begitu heroik selama itu, mengubah haluannya setelah ada aksi polisionil Belanda pada tahun 1948 ditambah dengan diterimanya perjanjian K.M.B. Banyak pimpinan-pimpinan organisasi yang bimbang dan pada Kongresnya di Jakarta pada tanggal 24 s/d 26 November 1959 memutuskan KOWANI dari badan Gabungan menjadi badan kontak dan menyatakan keluar dari G.W.D.S. Keanggotaan GWDS diserahkan pada organisasi masing-masing. Bersamaan dengan itu pada tanggal 4 Juni 1950, lahir Gerwis dan masuk menjadi anggota Kowani. Dan setelah Kowani menyatakan keluar dari GWDS.
Lahirnya Gerwis atas inisiatif 7 organisasi Wanita yang mempunyai azas dan tujuan yang sama terjadi dalam Kongres (teks hilang). Kongres ini telah mengupas soal-soal organisasi dan keadaan politik, sangat mendorong pikiran kaum wanita yang tergabung dalam Gerwis, bahwa pada tahun 1950 telah dirasakan adanya kekurangcocokan dengan pimpinan organisasi lainnya yang menempuh jalan konsekuen terhadap ide persatuan dan kesetiaan pada perjuangan memenangkan revolusi, dan menuntut K.M.B. dibubarkan. Karena K.M.B. telah mengembalikan kekuatan modal asing di Indonesia yang berarti mengembalikan bercokolnya kolonialisme. Ketujuh organisasi tersebut mempunyai tekad untuk mempertahankan kemerdekaan dan konsekuen melawan imperialisme. Sebagaimana telah mereka perjuangkan dalam clash I—II dengan menangkapi perang gerilya. Dengan tegas Gerwis menentang politik Pemerintah Sukiman yang reaksioner dengan memangkas pimpinan-pimpinan organisasi dan Partai-partai revolusioner, yang mempertahankan Panji Revolusi Agustus 45. Gerwis berjuang melaksanakan tuntutan wanita untuk demokrasi, hak-hak wanita, dan taraf hidup yang lebih baik. Dan mewujudkan apa yang dicantumkan dalam UUD 45 pasal 27, ialah persamaan hak-hak antara wanita dan laki-laki sebagai warga negara dan memegang teguh serta mengibarkan Panji-panji Revolusi Agustus 45. Dalam Kongres tersebut ditegaskan bahwa tujuan Gerwis untuk terbentuknya masyarakat samarata, hapusnya penindasan oleh manusia atas manusia, oleh bangsa atas bangsa.
Dengan sejarah singkat ini dapat dipahami bersama, bahwa kelahiran Gerwis adalah suatu kelahiran yang wajar, lahir karena keadaan itu sendiri, dan sampai sekarang tetap tumbuh menghijau dan maju dengan pesatnya.
Untuk dapat menggalang persatuan wanita Gerwis masuk menjadi anggota Kongres Wanita Indonesia. Selanjutnya berdasarkan keyakinan, bahwa perjuangan wanita Indonesia adalah tidak dapat dipisahkan dengan perjuangan wanita seluruh dunia, terutama dalam perjuangan untuk kemerdekaan nasional yang penuh dan perdamaian sejati, maka Gerwis sebagai anggota G.W.D.S. tidak ketinggalan dalam perjuangan wanita sedunia.
Dalam taraf pertumbuhan Gerwis ini tidak sedikit rintangan-rintangan yang dihadapi sebagai organisasi yang masih muda, banyak kekurangan cara kerja yang dialami. Pengalaman 5 tahun ini, sejak dilahirkan dapat memberikan pelajaran dan pengalaman yang banyak. Pengalaman-pengalaman yang baik dan kekurangan-kekurangan yang menonjol telah dibicarakan Kongres ke I—II. Telah diyakini bahwa di antaranya nama "Gerakan Wanita Sadar" itu juga sangat mempengaruhi perkembangan organisasi, karena banyak di kalangan kaum wanita, beranggapan bahwa yang dapat masuk Gerwis hanya mereka yang sudah sadar saja. Hal ini dapat dipahami bersama, dan bertepatan dengan itu ada dua organisasi wanita yang meleburkan ialah Istri Buruh Kereta Api dan Perwin dari Manado, sehingga dengan persetujuan Kongres mengganti nama Gerwis menjadi Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).
Kongres ke-III tahun 1957 Gerwani bekerja dengan plan ternyata menambah pesatnya kemajuan-kemajuan organisasi, khususnya di lapangan keanggotaan, misalnya pada permulaan Gerwani didirikan anggotanya hanya 600 orang. Kongres ke-II bertambah 15 kali, Kongres ke-III meningkat menjadi 700% dan pada Kongres hingga sekarang menjadi 1.750.000. Gerwani telah mempunyai 1473 Taman Kanak-Kanak Melati dan ratusan ribu Taman Minggu Melati serta banyak lagi usaha lainnya.