TAVIP MENJIWAI 17 AGUSTUS '64
Sudah semenjak tanggal 10 Agustus, seminggu menjelang hari bersejarah di berbagai lapangan, baik lapangan Banteng, sekitar Istana Olahraga maupun di Training Center Sukarelawati Dwikora tampak berbondong-bondong barisan wanita sedang sibuk melatih diri. Barisan-barisan Dwikora mesti rapi, tegap dan terampil.
Wanita Indonesia di tengah badai dalam penyelesaian Revolusi Agustus, bukan lagi "putri gemulai" dengan langkah "harimau lapar" tak daya seperti yang sering dinyanyikan orang, tetapi putri Indonesia di zaman DWIKORA berbaris tegap cekatan. Betapa Ibu Kartini akan tersenyum bangga menyaksikan kesanggupan Wanita Indonesia yang senantiasa ikut serta dalam kegiatan-kegiatan Revolusi sejak 45.
Demikian pada tanggal 17 Agustus '64 sejak pagi-pagi buta sukarelawati menjawab suara-suara imperialisme membanjiri lapangan merdeka, baik Sukarelawati yang sudah dilantik dalam Training Center yang kini disebut Tiswati Djaya (Tenaga Inti Sukarelawati Djakarta Raya) maupun dari masing-masing organisasi wanita, merah jambu wanita Marhaenis, biru muda Gerwani, hijau muda Tiswati Djaya, kuning, bunga-bunga dll.
Sukarelawati Gerwani yang telah mengadakan apel besarnya di DPP Gerwani pada tanggal 15 Agustus, siap sedia mendengarkan pidato Presiden sudah sejak pagi buta. Lebih dari 700 Sukarelawati Gerwani telah menyatakan ikrar bersama dan militansi mereka boleh dibanggakan.
Wajah berseri, meski diterik matahari membakar, menunjukkan tekad yang bulat dan kesiapsiagaan berjuang dengan semboyan pantang mundur menghadapi beratus macam kesulitan.
Memang tepatlah pidato 17 Agustus tahun ini berjudul "Tahun Vivere Pericoloso". Kami telah berani melepas belenggu penjajahan, tahun-tahun hangat panas perjuangan bersenjata telah kami lalui. Kami telah ditempa kesulitan-kesulitan dan benar kata Presiden bahwa "Republik akan hancur dari dalam". No Sir, kami tidak akan ambruk. Bersama-sama dengan Rakyat Indonesia akan kita pecahkan segala kesulitan-kesulitan itu, bersama-sama kita akan ganyang segala kesulitan-kesulitan itu. – That's what the revolution is for! Justru itulah tugas Revolusi memecahkan kesulitan-kesulitan, melenyapkan segala rintangan-rintangan.
2 Juta Rakyat ibu kota yang merdeka yang meliputi partai-partai, organisasi-organisasi pemuda, wanita, tani, buruh, terutama sukarelawatinya dengan penuh perhatian mendengarkan panjang tetapi padat penuh isi. Pidato yang menjawab pokok-pokok persoalan, memaparkan kemenangan-kemenangan yang telah dicapai selama ini serta menunjukkan arah juang menghalau rintangan-rintangan di jalan.
Di lapangan kebudayaan diganyang habis kaum Manukebuis, mengenai tani ditegaskan betapa pentingnya serta mutlaknya Landreform. Presiden menyatakan "Kenapa Djarek itu digariskan tanah untuk tani. Tanah untuk mereka yang betul-betul menggarap tanah". Kenapa Djarek itu menggariskan pula bahwa Landreform itu "satu bagian yang mutlak dari Revolusi" Indonesia. "Revolusi Indonesia tanpa Landreform adalah sama saja dengan ……… omong kosong (omong besar) tanpa isi". Kenapa? "karena kaum tani objektif membutuhkan tanah garapan".
Dibentangkan lebih lanjut kemenangan-kemenangan yang dicapai di dalam negeri maupun yang di luar negeri, tetapi juga ditegaskan bahwa Revolusi belum selesai.
Memang gegap gempita, semangat 45 tetap bergelora di tahun 64. Kita saksikan pawai 17 Agustus tahun ini, pemuda-pemuda yang dengan langkah tegap berbaris, wanita-wanita yang dengan militansinya dan semangat berkobar mendaftarkan diri untuk sukarelawati Dwikora yang tercatat oleh Front Nasional bukan sekadar angka belaka. Itu bisa kita saksikan dalam wajah-wajah yang penuh kesungguhan, wajah ibu-ibu yang penuh keyakinan akan kebenaran yang dibelanya.
Demikian perayaan 17 Agustus tahun ini sangat berkesan, penuh kehangatan, mendebarkan, mengingatkan kita kepada tahun-tahun pertama Revolusi, di kala pasukan dilemparkan ke lembah dan ke gunung tetapi tak pernah kehabisan semangat berjuang.
Ya ……. banyak yang telah kita capai semenjak perjuangan gerilya di hutan-hutan, kemegahan perayaan tahun ini lebih menebalkan keyakinan bahwa betapapun rintangan menghalang, rakyat Indonesia termasuk tani, kaum wanita, senantiasa siap sedia untuk mengatasi Vivere Pericoloso, berani nyrempet bahaya demi kemenangan. Marilah kita kaum wanita Indonesia tetap terus melatih diri.