Arsip Tahun 1963

4 TAHUN REVOLUSI KUBA

-
Api Kartini, 1963, p. 2

PADA tanggal 1 Januari 1959 benteng pertahanan terakhir diktator Batista yang telah membikin sengsara penghidupan sebagian besar keluarga Kuba telah diremuk-redamkan dan pasukan yang dipimpin oleh Fidel Castro telah melanjutkan derap kemenangan menuju ibu kota Havana. Sejarah Revolusi Kuba tidak bisa dipisahkan dengan sejarah heroisme Wanita Kuba yang banyak menyumbangkan baktinya sebagai penghubung front depan dan garis belakang, sebagai informan, membantu menyebarkan pamflet yang berisi ajakan perjuangan menghancurkan rezim yang lalim, mengumpulkan obat-obatan, dan lain-lainnya lagi.

Jika dikenangkan bahwa sebelum Revolusi Menang keluarga-keluarga buruh di kota-kota dan keluarga-keluarga petani di desa-desa umumnya menderita sangat dalam lapangan penghidupan, buta huruf merajalela, rumah-rumah laksana kandang babi, dsb dan dibandingkan dengan keadaan sesudah Revolusi Menang di mana setiap anak bisa minum susu setiap harinya, bisa pakai sepatu, bisa mengunjungi sekolah, harga bahan keperluan hidup yang pokok makin stabil dan daya beli Rakyat makin meningkat, maka perubahan ini adalah merupakan perubahan yang fenomenal yang telah bikin kalang-kabut musuh-musuh Rakyat Kuba yang anti-kemajuan, musuh-musuh Wanita Kuba yang anti-kemakmuran. Pendek kata setiap keluarga Kuba, baik wanitanya, prianya, maupun anak-anaknya, boleh dikatakan menjadi pendukung yang gigih dan setia dari Revolusinya.

Heroisme Wanita Kuba yang didapatkan contohnya yang khas dengan terjunnya Ketua Federasi Wanita Kuba yang sekarang Dr. Vilma Espin dalam front pertempuran yang kedua sewaktu Revolusi masih berkecamuk dengan hebatnya merupakan jaminan bahwa Revolusi Kuba pasti akan mencapai tujuannya dan tak dapat tergoyahkan oleh siapapun juga karena jiwa Revolusi itu telah berakar di setiap keluarga di mana kaum wanita merupakan intinya.

Dalam hubungan ini ingat kami sebuah pepatah kuno Tionghoa yang menyatakan, bahwa untuk membangun rumah seorang laki-laki membutuhkan seorang orang wanita. Pepatah ini bisa kita terapkan pada setiap Revolusi dan khususnya Revolusi Kuba. Untuk memenangkan dan untuk mempertahankan terus kemenangan Revolusi Kuba, maka Revolusi itu membutuhkan bantuan yang aktif dan sadar dari kaum wanita. Siapa yang telah berkunjung ke Kuba akan membenarkan dan menyaksikan kenyataan itu.

Kaum imperialis AS dengan segala petualangannya untuk mematahkan Revolusi Kuba, dimulai dengan percobaannya yang gagal di Pantai Babi sampai pengeboman yang membabi buta terhadap Havana dan karantina laut yang gagal itu gentar menghadapi kokohnya benteng Revolusi Kuba itu yang terutama ditanggulangi oleh kaum wanitanya.

Selain itu kaum wanita Kuba dengan kemenangan revolusinya itu telah mengalami perubahan nasib yang radikal sekali. Jika dulu kaum wanita Kuba kebanyakan terpaksa bekerja sebagai pelayan pada keluarga-keluarga tuan tanah dan borjuasi besar Kuba dalam keadaan buta huruf dan miskin, maka kini kita saksikan bahwa wanita-wanita itu sekurang-kurangnya yang telah memegang nasibnya di tangan sendiri melakukan pekerjaan sebagai sopir, kondektur, guru PBH, dsb yang di masa yang lampau tak dapat diimpikannya.

Dengan kemajuan yang pesat ini kaum wanita Indonesia turut merasakan dan dalam tahun-tahun yang akan datang tentu akan lebih banyak lagi kemajuan yang dicapai oleh Wanita Kuba.

REVOLUSI VENEZUELA

PERISTIWA-PERISTIWA di Venezuela akhir-akhir ini menunjukkan bahwa Rakyat Venezuela dengan mendapat dukungan sepenuhnya dari kaum wanitanya yang diilhami oleh resolusi-resolusi Konferensi Wanita Amerika baru-baru di Havana sedang dengan giatnya menyusun kekuatan-kekuatan revolusioner dalam bentuk Tentara Pembebasan Nasional. Tentara Pembebasan Nasional ini telah melakukan perang gerilya yang gigih sekali dan berhasil menguasai beberapa kota dan desa-desa di pedalaman. Di kota-kota besar dan kota-kota industri Rakyat mengadakan perlawanan terhadap eksekusi teror Betancourt, diktator Venezuela yang hidup dengan bantuan dari kaum imperialis Amerika Serikat. Kaum Buruh mengadakan pemogokan dan perjuangan barikade melawan polisi fasis Betancourt dilakukan oleh Rakyat, kaum pemuda, mahasiswa, buruh dan wanita di kota-kota.

Kuba ke-II sedang berlangsung di Venezuela dan sejak kembalinya Larrazabel, pimpinan Rakyat Venezuela yang berhaluan progresif dan yang merupakan lawan yang terkuat dari Betancourt dalam pemilihan Presiden yang lalu sesudah dijatuhkannya diktator Perez Jimenez, maka perjuangan revolusioner Rakyat Venezuela di kota-kota dan pedalaman makin bergelora.

Adalah menjadi keyakinan Rakyat Venezuela dan kaum wanitanya bahwa jalan Revolusi Venezuela adalah jalan Kuba, yaitu kemenangan hanya bisa dicapai dengan dukungan perjuangan bersenjata guna menaklukkan kaum tuan-tanah besar, kaum komprador yang tercermin dalam kekuasaan teror dari diktator Betancourt.

Tepatlah apa yang dirumuskan oleh Komando Gerilya Nasional dari Tentara Pembebasan Nasional Venezuela bahwa tugas utama dalam tahun 1963 adalah: pertama: mengembangkan Tentara Pembebasan Nasional; kedua: membentuk Front Pembebasan Nasional dan ketiga: meneruskan perjuangan revolusioner. Dalam ketiga tugas utama itu kaum wanita Venezuela yang militan itu memainkan peranan yang tidak kecil. Wanita-wanita kota, wanita-wanita buruh, wanita-wanita tani di pedalaman perlu dibangkitkan agar dengan aktif menyertai revolusi Venezuela yang akan membawa pembebasan, perdamaian, kemakmuran dan demokrasi kepada mereka itu.

Dan yang lebih penting lagi ialah perjuangan untuk menggagalkan kecurangan-kecurangan dalam pemilihan umum yang akan diselenggarakan oleh rezim Betancourt dalam tahun 1963 ini. Sudah tentu kaum wanita Venezuela akan mempunyai andil yang besar dalam perjuangan ini.