Arsip Tahun 1963

Dengan Manipol Perkuat Front Persatuan Wanita

Ratna
Api Kartini, 1963, pp. 1-2

PADA tanggal 6-10 Januari 1963 telah berlangsung sidang Pleno DPP Gerwani di Jakarta yang dikunjungi oleh anggota-anngota Pleno dan para tamu seperti Ny. Argo Ismojo istri walikota Magelang, juga hadir istri kepala daerah Boyolali, dan istri kepala daerah Salatiga.

Pleno ini diadakan setahun sesudah Kongres Nasional ke-IV yang diadakan pada bulan Desember 1961. Jadi Pleno ini berkewajiban untuk meletakkan garis-garis tugas Nasional dan Internasional.

Ny. Umi Sardjono ketua DPP Gerwani menyampaikan laporan umumnya mengenai masalah situasi luar negeri di mana dinyatakan bahwa salah satu ciri daripada abad sekarang ini ialah adanya perkembangan yang makin maju dari kekuatan front internasional anti-kolonial dan cinta damai. Lika-liku kaum imperialis yang dikepalai oleh Amerika Serikat akan menemui kegagalannya. Sebagai bukti dalam tahun yang lalu saja ada tiga negara baru yang telah muncul dan kebangkitan Rakyat di Asia, Afrika dan Amerika Latin menentang imperialis melonjak tinggi. Di balik teknik dan pembangunan ekonomi di negeri sosialis, Kaum wanita Indonesia tak dapat melupakan kepahlawanan Rakyat Kuba yang berhasil memukul mundur imperialis yankee. Demikian juga wanita Indonesia mendukung sepenuhnya revolusi Rakyat Kalimantan Utara dan memprotes Pemerintah Inggris dan Malaya yang menindas Rakyat Kalimantan Utara.

Mengenai keadaan dalam negeri ternyata benar bahwa dengan Trikora kaum imperialis menjadi jatuh tersungkur. Sebagaimana kelanjutan daripada putusan kongres, dalam menghadapi pasangnya gelombang pembebasan Irian Barat segenap anggota Gerwani di seluruh daerah segera mempersiapkan diri untuk memenuhi panggilan ibu pertiwi untuk ikut di dalam barisan sukarelawan. Ribuan anggota telah mendaftarkan diri untuk dilatih dan siap di-drop di daratan Irian Barat. Demikian juga dengan diselenggarakannya Training Centre yang diikuti oleh 60 siswa yang datang dari daerah-daerah terutama luar Jawa mendorong semangat yang tinggi. Dalam TC ini kecuali diberikan pelajaran oleh staf MBAD, juga telah memberikan indoktrinasi tokoh-tokoh politik seperti Bung Aidit tentang Marxisme dalam praktek, Sdr. Ruslan Abdulgani tentang Manipol, Ny. Dr. Hurustiati Subandrio, Ny. Hidayat, Ny. Arudji dan Drs. J.B. Ave.

Pada tanggal 19 Desember yang lalu Presiden telah mengumumkan dekrit bahwa sejak tanggal 1 Mei 1963 yang akan datang UUKB atau keadaan darurat akan dihapuskan seluruhnya. Kita menyambut dengan gembira adanya dekrit tersebut, yang sepenuhnya sesuai dengan keinginan kita dan sejak kongres kita yang lalu demokrasi atau penghapusan UUKB adalah menjadi slogan dasar bagi Gerwani.

Keadaan penghidupan Rakyat.

Keadaan penghidupan Rakyat semakin hari semakin berat dirasakan: Kaum teroris ekonomi telah bertindak demikian kejam sehingga taraf hidup merosot begini buruknya. Kenaikan harga membubung terus. Ini disebabkan oleh adanya salah urus.

Di daerah-daerah anggota-anggota Gerwani juga bangkit mengadakan aksi-aksi melawan teror harga. Di Jakarta Raya, Jawa Barat, Jawa Tengah telah bergelombang mengirimkan delegasi dan di Jawa Timur delegasi besar yang dilkuti oleh 3.000 wanita telah menyatakan tuntutan dan kekuatiran perasaan kaum wanita terhadap teror harga, mendesak kepada Pemerintah supaya bertindak.

Keadaan ini hanya bisa diatasi dengan jalan konsekuen melaksanakan Manipol, yaitu sungguh-sungguh dilaksanakan rituling aparatur yang tidak Manipolis harus turun panggung. Sebagai Manipolis yang setia kita harus menjunjung tinggi konsepsi khas Bung Karno dan supaya konsepsi itu segera dilaksanakan, yaitu Kabinet Gotong Royong. Kabinet Nasakom.

Dengan front persatuan wanita memperkuat barisan emansipasi yang sungguh-sungguh.

Memenangkan perjuangan emansipasi revolusioner tidak mungkin bisa tercipta tanpa memperkuat front persatuan di kalangan wanita.

Dalam kerja sama ini apa yang harus kita perhatikan? Tak lain adanya gejala-gejala dalam perkembangan gerakan-gerakan emansipasi wanita, bahwa tidak benar semua gerakan wanita yang mengatakan tidak berpolitik, itu betul-betul non-politik. Mereka bersemboyan Manipol tetapi mengingkari unsur NASAKOM dalam badan-badan kerja sama. Mereka bersemboyan non-politik tetapi sangat bernafsu untuk bisa ikut menduduki kursi-kursi di lembaga-lembaga.

Kita berpendirian bahwa bermanipol tidak berarti hanya mau duduk di kursi, tetapi harus berjuang untuk menyelesaikan tuntutan-tuntutan revolusi, kita harus waspada terhadap usaha-usaha melikuidasi organisasi wanita, yang hakikatnya sama dengan perjuangan-perjuangan meng'oppi'kan Serikat Buruh yang telah dapat digagalkan terutama oleh aksi-aksi besar SOBSI.

Dalam forum kerja sama ini tugas kita sekarang ialah sebagai berikut. :

1. Memperkuat front nasional berporoskan Nasakom.

2. Membantu pengembangan kerja sama yang sesuai dengan Manipol.

3. Mensukseskan Kongres ke-VI Kongres Wanita Indonesia pada bulan Juli.

Masalah-masalah yang dipersoalkan oleh Pleno ialah mengenai :

1. Sumbangan Gerwani untuk menanggulangi kesulitan sandang-pangan dengan menaikkan produksi.

2. Mensukseskan seminar wanita rumah tangga.

3. Lebih memperkuat organisasi dan melaksanakan program untuk suksesnya plan nasional termasuk masalah pembelaan hak-hak wanita dan anak-anak, pekerjaan di bidang perceraian/pendidikan/kebudayaan.

Di samping ini juga membicarakan masalah: meningkatkan pekerjaan internasional untuk memperkuat persatuan dan setiakawan "The New Emerging Forces". Terutama mengenai pokok pendirian Gerwani dalam persiapan Kongres wanita sedunia yang diselenggarakan oleh GWDS besok pada tanggal 24-29 Juni 1963 di Moskow.

Pleno juga mendukung Konferensi ke-II Buruh Wanita Internasional yang akan diadakan bulan Oktober 1963 di Bucharest.

Pleno telah mengambil sejumlah resolusi soal-soal dalam negeri dan luar negeri.