1 Mei 1963: Irian Barat Bebas!
1963 UNTEA menyerahkan kekuasaannya atas Irian Barat kepada Indonesia, maka timbullah situasi baru di mana ada kemungkinan pulihnya hubungan yang normal antara Indonesia dan Belanda.
Tetapi hal itu sepenuhnya tergantung kepada sikap dan orientasi Belanda kepada situasi baru yang ada di Indonesia. Kembali lama atau "de goode oude tijd" bagi Belanda di Indonesia adalah tak mungkin.
Yang mungkin dan ini sepenuhnya tergantung kepada kemampuan dan kemauan pihak Belanda untuk menerima situasi baru di Indonesia, adalah memulai hubungannya dengan halaman baru. Artinya, pihak Belanda harus mengakui kenyataan bahwa di Indonesia sedang diperjuangkan dan dilaksanakan cita-cita sosialisme tahap demi tahap menurut Manipol.
Hal ini menutup kemungkinan-kemungkinan bagi Belanda mengajukan klaim-klaim yang tak masuk akal atas perusahaannya yang dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia.
Belanda hendaknya insaf bahwa Rakyat Indonesia telah mengalami penderitaan-penderitaan yang pahit akibat penjajahan Belanda selama berabad-abad di masa yang lalu. Tambahan: perang kemerdekaan, perjuangan pembebasan Irian Barat yang disebabkan karena sikap kepala batu pihak Belanda, banyak meminta pengorbanan harta benda dan jiwa dari Rakyat Indonesia.
Kaum ibu telah merelakan suaminya, puteranya, saudaranya untuk bersambung nyawa membebaskan Irian Barat. Kesemuanya itu hendaknya dimengerti benar-benar jika Belanda ingin mengadakan hubungan lagi dengan Indonesia.
Janganlah hendaknya pihak Belanda memulai hubungannya dengan Indonesia dengan menuntut "privileges" yang dipunyainya sebelum Perang Dunia II atau mengajukan klaim-klaim yang tak masuk akal terhadap perusahaan-perusahaan Belanda yang sebenarnya sudah "afgeschreven" itu. Pihak Belanda hendaknya insaf bahwa dosa-dosa imperialisnya terlalu banyak di Indonesia ini dan telah banyak menimbulkan bencana dan kemiskinan di kalangan Rakyat Indonesia. Kaum ibu di masa penjajahan banyak yang kehilangan puteranya karena kurang makan akibat kemiskinan yang mendalam itu. Perjuangan untuk membebaskan Irian Barat telah meminta korban jiwa dari prajurit-prajurit kita. Dan ini disebabkan karena sikap membandelnya kaum imperialis Belanda. Hal-hal itu semua hendaknya diresapkan dalam-dalam oleh pihak Belanda, sebelum memulai hubungannya dengan Indonesia. (teks selanjutnya hilang)