7 TAHUN Kaum Wanita Indonesia
KAUM WANITA INDONESIA Masih ingat bahwa tepat 7 tahun yang lalu pada tanggal 18 April 1955, 59 Negara Asia-Afrika berkumpul di Bandung mengadakan Konferensi A-A yang pertama yang kemudian terkenal dengan nama Konferensi Bandung. Kota Bandung yang dalam Revolusi Agustus 1945-1946 telah menjadi lautan api mendapat kehormatan untuk menjadi tempat berkumpul wakil-wakil dari 29 Negara-negara Asia-Afrika yang membunyikan lonceng kematian bagi imperialisme dan kolonialisme.
Kita kaum wanita masih ingat bagaimana kalang kabutnya kaum imperialis di waktu itu ketika wakil-wakil dari “new emerging forces” menurut istilah Presiden kita Bung Karno yang tercinta itu berkumpul di Bandung buat memberikan pukulan-pukulan yang mematikan bagi imperialisme dan kolonialisme itu. Lebih-lebih dengan hadirnya wakil-wakil dari negara-negara kubu sosialis di Asia dan dari RRT khususnya, sehingga kekuatan-kekuatan gelap dari imperialisme itu mencoba menghambatnya dengan antara lain mensabotase pesawat terbang “Kashmir Princess” yang membawa sebagian dari delegasi RRT dari Hongkong ke Indonesia itu yang akibatnya pesawat tersebut terbakar dan jatuh di lautan.
Dari kenyataan itu kita kaum wanita Indonesia dapat mengambil pelajaran bahwa kaum imperialis itu memang kaum imperialis yang menentang segala kemajuan dan kemerdekaan dari bangsa-bangsa yang terjajah yang pernah dijajah di Asia dan Afrika ini.
Namun demikian Konferensi A-A yang di Bandung itu toh berhasil dengan gilang-gemilang.
Dari 7 tahun sesudah Konferensi A-A itu dunia Asia-Afrika dan juga Amerika Latin banyak berubah. Api kemerdekaan telah menyulut seluruh benua Afrika sehingga selama 7 tahun ini di Afrika telah berdiri 24 negara-negara yang merdeka. Kaum imperialis dan neo-kolonialis mencoba membendung menjalarnya api kemerdekaan itu dengan membunuh patriot besar Patrice Lumumba dari Kongo yang merupakan lambang perjuangan kemerdekaan untuk rakyat-rakyat di Afrika yang masih meringkuk di bawah telapak kaki penjajahan.