Kongres Perlutjutan Sendjata
UNTUK beberapa hari lamanya sejak 9 Juli di Moskow dilangsungkan Kongres Sedunia untuk Perdamaian dan Perlucutan Senjata. Kongres ini dihadiri oleh 2500 delegasi serta peninjau dan tamu dari 100 negeri. Indonesia pun tak ketinggalan mengirimkan delegasinya di bawah pimpinan Nyonya Dr. Hurustiati Subandrio. Bertepatan dengan pembukaan Kongres tersebut, Amerika Serikat telah meledakkan bom H 200–500 mil di atas Pasifik dengan kilatan cahaya yang terlihat dari Honolulu.
Seperti dikatakan oleh Ketua Panitia Dewan Perdamaian Sedunia John Bernal dari Inggris, maksud daripada Kongres tersebut adalah untuk mencapai perlucutan senjata yang umum. Kongres harus melakukan segala usahanya untuk melakukan tekanan terhadap pemerintahnya masing-masing guna menjamin suksesnya Konferensi Perlucutan Senjata yang sedang diadakan di Jenewa.
Dikemukakan oleh Bernal bahwa percobaan-percobaan nuklir A.S. di angkasa tinggi adalah secara sengaja mengganggu lapisan atas atmosfer.
Nyonya Rameswari Nehru dari India dalam pidatonya mengutuk pakta-pakta militer dan jika perang nuklir meletus maka perang itu akan menjadi bagaikan api neraka yang membakar beratus-ratus juta orang.
Dalam pidatonya selama Kongres itu Ketua delegasi Indonesia Nyonya Dr. Hurustiati Subandrio secara pedas mengecam penindasan dan eksploitasi kolonialisme beserta imperialisme yang terus mempertahankan kekuatan militernya secara besar-besaran di negara-negara asing.
Disebutnya pengalaman di Aljazair, Kongo, Angola dan IRIAN BARAT. Lebih jauh disebutnya pemusatan tentara asing di Laos, Vietnam dan Korea (yang dimaksud Korea Selatan, red. AK) yang hanya menimbulkan kekacauan dan penderitaan untuk Rakyat yang sebenarnya ingin perdamaian.
Dikemukakan bahwa salah satu hasrat utama kongres ini ialah pendesakan supaya "goodwill" dan pengertian serta kesetiakawanan di antara bangsa-bangsa disuburkan. Dikemukakan bahwa negara-negara imperialis menimbulkan ketegangan dan peperangan di sana untuk berusaha menguasai mereka secara politis atau ekonomis. Adalah hak mutlak Rakyat yang bersangkutan untuk mempertahankan diri dan menghancurkan belenggu yang mengekangnya dengan segala jalan. Ditekankan bahwa usaha menghancurkan kolonialisme dan imperialisme merupakan syarat untuk menghentikan perlombaan persenjataan.
Akhirnya oleh Nyonya Dr. H. Subandrio diberi sorotan atas masalah Irian Barat, di mana terutama ditekankan bahwa Rakyat Indonesia bertekad bulat untuk memasukkan Irian Barat dalam wilayah kekuasaannya dalam tahun ini juga. Inilah serba sedikit tentang Kongres Sedunia untuk Perdamaian dan Perlucutan Senjata yang pelaksanaannya secara sukses dari keputusan-keputusannya yang diambil sudah tentu dibarengi dengan aksi-aksi Rakyat yang seluas-luasnya di mana-mana sehingga merupakan dukungan dan kekuatan yang konkret yang bisa memaksa kaum imperialis dan kolonialis tunduk kepada tuntutan-tuntutan massa Rakyat sedunia.