Mobilisasi Umum
TINDAKAN kaum imperialis Belanda belakangan ini yang dengan tergesa-gesa memperkuat kedudukannya di Irian Barat dengan mendatangkan pasukan-pasukan baru dari Nederland telah dijawab oleh Rakyat Indonesia dengan makin banyak mengalirnya barisan-barisan sukarela yang mendaftarkan diri untuk dilatih kemiliteran guna membebaskan Irian Barat. Tua-muda, wanita dan pria berduyun-duyun ke tempat pendaftaran yang merupakan bukti kebulatan tekad Rakyat Indonesia untuk dengan jalan apapun membebaskan sebagian tanah airnya yang masih dikangkangi penjajah Belanda itu.
Belanda yang makin kalap itu makin hari makin kepepet kedudukannya sehingga suatu rapat biasa pun yang baru-baru ini diadakan oleh PARNA (Partai Nasional) di Kotabaru, ibu kota Irian Barat yang masih diduduki Belanda, telah diobrak-abrik oleh agen-agen kolonial Belanda.
Bahwa penduduk Irian Barat sampai kini hari menjadi bulan-bulanan keganasan penjajah Belanda yang biadab itu sudah menjadi pengetahuan umum. Apa yang dicanangkan oleh Ibu Subandrio pada pidato radionya menyambut TRIKOMANDO RAKYAT bahwa demi kelangsungan hidup keturunan kita perlu segera Irian Barat dibebaskan dari cengkeraman Belanda adalah tepat. Apa sebabnya? Seperti diketahui Belanda menjalankan pembunuhan secara besar-besaran atau genocide atas penduduk Irian Barat.
Hal itu telah diakui oleh majalah Amerika Serikat "Anthropological Quarterly" yang menyatakan bahwa pembesar kolonial Belanda antara lain mengusir suku bangsa Muju, sebanyak 13.000 jiwa yang semula tinggal di daerah Barat Daya pesisir Irian Barat. Cara mengusirnya adalah kejam dan tidak kenal perikemanusiaan. Yaitu polisi pada waktu-waktu tertentu menghancurkan gubuk-gubuk bangsa Irian di tengah-tengah hutan; ternak piaraan dibinasakan; di mana-mana orang dipaksa bekerja sebagai budak belian, sedangkan orang yang tidak mau menurut dijebloskan ke dalam penjara. Tindakan yang demikian itu telah berakibat bahwa suku bangsa tersebut akhirnya mati kelaparan.
Inilah cara penjajah Belanda hendak "memajukan" penduduk Irian Barat itu. Bagaimana perih hati Rakyat Indonesia melihat praktik-praktik biadab demikian itu dapat dibayangkan. Terutama jika diingat bahwa dalam praktik-praktik yang demikian itu baik kaum wanita dan anak-anak yang tak berdosa menjadi korban pembunuhan massal yang keji itu. Maka adalah tepat canang Ibu Subandrio di atas tersebut.
Perlulah kita makin memperlancar mobilisasi umum potensi Rakyat Indonesia, baik kaum prianya, baik kaum wanitanya, untuk menyegerakan kembalinya Irian Barat ke dalam kekuasaan Republik Indonesia. Juga perlu kita memperkuat home-front atau garis belakang kita dengan mengatasi kesulitan-kesulitan sandang-pangan yang satu sama lainnya ada pengaruhnya atas daya tempur dan daya tahan Rakyat kita. Usaha-usaha meningkatkan produksi hasil pangan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan beras dewasa ini adalah merupakan tugas utama dari kita semua agar dengan gencar kita dapat memusatkan tenaga untuk membebaskan Irian Barat. Peranan kaum wanita dalam hal ini sangat besar. Para ibu-ibu rumah tangga, para ibu-ibu tani, misalnya, bisa menyumbangkan darmanya dengan menanami pekarangan-pekarangan rumahnya yang kosong dengan tanaman-tanaman yang menghasilkan pangan yang sedikit-banyak bisa meringankan kesulitan beras dewasa ini.
Ambillah contoh Rakyat Kuba yang di samping membangun negerinya juga bersiap-siap untuk bertempur melawan agresi imperialis Amerika Serikat yang tidak senang melihat Kuba memenuhi jalannya sendiri itu. Maka kita juga di samping kita memegang bedil di satu tangan untuk mengusir penjajah Belanda dari Irian Barat, di tangan yang lainnya kita memegang pacul untuk mengatasi kesulitan pangan yang seperti diketahui ditimbulkan karena pengacauan kaum imperialis dan kakitangan-kakitangan kaum reaksi di dalam negeri.
Juga mobilisasi setiakawan internasional perlu dikembangkan. Baru-baru ini Rakyat Jepang telah mengecam pemerintahnya yang membolehkan Belanda mengangkut tentaranya melalui lapangan terbang Haneda di Tokyo. Kekuatan-kekuatan progresif di negeri Belanda pun tidak tinggal diam. Mereka dengan gigih menentang perang kolonial yang hendak dicetuskan oleh pemerintah De Quay.