Arsip Tahun 1961

Kumandang Bandung

-
Api Kartini, 1961, pp. 28-29

Untuk kedua kalinya Bandung telah menjadi tempat musyawarah negeri Asia dan Afrika, tetapi kali ini bukanlah dari pemerintah-pemerintah melainkan dari wakil-wakil Rakyatnya. Di bawah ini adalah sekelumit percakapan Redaksi Api Kartini dengan beberapa anggota wanita dari delegasi A.A yang menghadiri sidang Dewan Setiakawan Rakyat Asia-Afrika yang diadakan dari tanggal 10 s/d 14 April 1961.

TIDAK banyak jumlah utusan wanita ke sidang DESRAA. Tetapi jumlah yang ada menunjukkan bahwa kaum wanita putri giat berkecimpung dalam bidang setiakawan antar Rakyat-rakyat se-Asia-Afrika. Kecuali Indonesia, hanya beberapa negara lainnya seperti Ceylon, Republik Demokrasi Vietnam, Iran, Kamerun, dan Jepang, mempunyai anggota wanita dalam delegasinya.

Wartawan wanita pertama-tama telah berusaha untuk menemui Nyonya Marthe Moumie dari Kamerun, bukan saja karena ia adalah satu-satunya utusan wanita dari Afrika, tetapi juga karena menariknya riwayat hidup nyonya tersebut, hal mana secara selentingan telah didengar sebelumnya oleh wartawan wanita. Tidaklah mudah mendapatkan kesempatan berbicara dengan Ny. Moumie, karena begitu banyak minat para wartawan lainnya untuk mengadakan wawancara dengannya. Demikianlah, maka pertemuan wartawan wanita dengan Ny. Moumie menjadi agak meleset juga, sehingga tinggal diberi sebuah brosur saja oleh Ny. Moumie, yang kemudian masih sempat pula menjelaskan dalam bahasa Perancis lainnya bahwa ia “sangat gembira dapat berkunjung ke Indonesia dan ikut serta dalam musyawarah yang demikian penting ini.”

Brosur kecil yang ditulis oleh Ny. Moumie sendiri, kiranya tak dapat kita lalui begitu saja, tanpa memberi beberapa kutipan. Dengan judul “Kenangan-kenangan dari kehidupan suamiku”, brosur ini ternyata mengungkapkan suatu kejadian yang sangat sedih dan kejam yang telah menimpa keluarga Ny. Marthe Moumie, dengan terbunuhnya Dr. Felix Roland Moumie lewat peracunan oleh tangan kaum imperialis, baru 4 bulan saja sebelum Ny. Moumie datang ke Indonesia. Dr. Felix Moumie yang ketika itu menjabat Ketua Partai Persatuan Penduduk dalam bulan November tahun 1960 telah diracun dan meninggal dalam sebuah rumah sakit di Jenewa, sebagai perbuatan keji kaum imperialis terhadap seorang pejuang yang gigih untuk kemerdekaan nasional tanah airnya Kamerun. Dengan cara yang mengharukan, tetapi penuh bersemangat juang, Ny. Moumie menceritakan dalam brosur itu bagaimana suaminya yang berasal dari petani miskin, dengan melalui kesengsaraan dan pengorbanan besar menjadi seorang tokoh gerakan kemerdekaan negerinya dan seorang dokter yang cakap dan dicintai oleh Rakyat.

Kata-kata yang penuh semangat juang seperti ditulis Ny. Moumie dalam brosur ini adalah demikian: “Kami mengetahui bahwa kemerdekaan itu tidak akan datang begitu saja, kita tidak akan dapat mencapainya dengan buket-buket bunga mawar, tetapi dengan pengorbanan-pengorbanan yang besar, kadang-kadang dengan jiwa manusia. Kami mengetahui semua konsekuensi dari berjuang ini. Mengapa pula kami akan mundur atau meninggalkan medan perjuangan bila ada kawan-kawan yang gugur terbunuh? Perjuangan kami adalah benar dan adil, oleh karenanya ia disokong oleh semua negeri yang cinta perdamaian, keadilan dan kemerdekaan.” Dan brosur ini Ny. Moumie mengakhiri dengan kata-kata “Bahu-membahu dengan Rakyat Kamerun, saya meneruskan perjuangan, untuk kemenangan, cita-cita suami saya, yang juga menjadi cita-cita saya sendiri, yaitu suatu Kamerun yang Merdeka dan Bersatu.” Semangat dan tekad yang sama ini pula yang telah berkumandang di ruang sidang DESRAA di Bandung itu, yaitu untuk mencapai kemerdekaan bagi semua negeri jajahan melawan kolonialisme, neo-kolonialisme.

Percakapan dilanjutkan dengan beberapa anggota wanita delegasi lainnya. Kesempatan bertemu dimudahkan oleh adanya pertemuan ramah tamah dengan utusan-utusan wanita asing ini yang diadakan oleh DPP Gerwani. Walaupun sepatah dua patah kata mereka telah menyatakan isi hati mereka sebagai berikut kepada wartawan wanita.

Ny. Nguyen Thi Luu, utusan dari Republik Demokrasi Vietnam mengemukakan soal penting bahwa “DESRAA ambil keputusan untuk membentuk Seksi Wanita dalam Sekretariat DESRAA yang persiapannya antara lain harus dikerjakan oleh Vietnam dan Indonesia di samping 4 negeri lainnya.”

Ny. Kamari, seorang ahli hukum dari Sri Lanka melahirkan kegembiraan berada dalam pertemuan Gerwani itu, dan menyatakan bahwa pertemuan lingkungan walaupun kecil itu mencerminkan hasrat kaum wanita berbagai negeri A.A untuk bersatu dan berjuang bersama menuju tercapainya cita-citanya.