Harapan Djenab
Djenab, seorang wanita tani miskin dari desa Pabuaran di Jawa Barat sedang menggendong anaknya yang baru usia kira-kira 10 bulan sewaktu ditemui oleh wartawan Api Kartini di Gedung Wanita. Ia adalah salah satu peserta Seminar Nasional Wanita Tani di Jakarta yang diselenggarakan oleh DPP Gerwani.
Pada wajah Djenab terlukiskan penderitaan yang mencekam kehidupannya. Apakah kiranya yang dideritanya? Mengapakah ia sampai datang di Jakarta dalam Seminar?
Sebagaimana sebagian besar wanita tani yang hidup di desa yaitu yang terdiri dari buruh tani dan tani miskin, dalam diri Djenab tercerminkan kehidupan sebagian besar dari penduduk desa, ya sebagian besar dari Rakyat Indonesia. Merekalah yang paling tertindas dan terbelakang. Semua kemelaratan dan keterbelakangan yang menimpa kaum tani termasuk wanita tani adalah akibat penghisapan dan penindasan tuan tanah.
Demikianlah Djenab sebagai ibu dan istri ia mengalami kesulitan-kesulitan sebagai akibat masih bercokolnya sisa-sisa feodalisme di desa. Karena kemiskinan mereka tak dapat menjaga kesehatan tubuhnya. Anak Djenab sesungguhnya semuanya berjumlah 12, tetapi yang 6 meninggal. Sekarang ini tinggal 6 orang anak. Djenab dengan suami adalah keluarga miskin. Sawahnya sebanyak 50 bentel yang menghasilkan 75 gedeng padi. Segedeng bila dijadikan beras menjadi 6 liter. Di desanya yaitu di Pabuaran dalam satu tahun hanya terdapat satu kali panen. Djenab dengan keluarganya bekerja di sawah mulai pagi buta sampai siang hari. Untuk menambah kebutuhan hidupnya pada sore hari mereka mencari kayu atau daun-daunan untuk dijual ke pasar. Anak-anaknya yang sudah besar juga ingin sekolah. Betapa pun susahnya kehidupan Djenab dengan keluarganya membanting tulang untuk bisa menyekolahkan anaknya. 3 dari anak-anaknya kini sudah sekolah, 1 sudah bekerja dan yang bungsu berumur 10 bulan. Kehidupan yang serba susah itu ditambah lagi bila panenan yang hanya sekali dalam setahun itu mengalami paceklik. Sedangkan sebagai pekerja, wanita tani walaupun paling produktif, tapi mereka tak kenal jaminan sosial di waktu sakit, di waktu mengandung hingga melahirkan.
Sebagai petani, wanita tani sama halnya dengan kaum tani umumnya membutuhkan tanah garapan dan perbaikan tingkat hidup; hak wanita tani untuk memiliki tanah yang sekarang ini telah dijamin oleh Undang-Undang Pokok Agraria pasal 9 perlu dituntut realisasinya.
Sewaktu terdengar oleh Djenab dan teman-teman lainnya di desa bahwa akan diselenggarakan seminar wanita tani, mereka pun ingin tahu. Apalagi setelah di desanya didatangi oleh wanita-wanita yang akan mempelajari keadaan wanita tani, wanita-wanita tani tersebut disamping menerangkan kehidupannya, mereka dapat penjelasan tentang akan adanya Seminar wanita tani.
Wanita-wanita tani di desanya Djenab telah setuju bahwa dari desa Pabuaran perlu ada yang berangkat untuk mendatangi Seminar di Jakarta. Dengan rasa yang terharu campur gembira Djenab berangkat. Anaknya yang bungsu diajak. Dalam seminar wanita tani juga diadakan penitipan anak-anak untuk ibu-ibu yang membawa anak-anaknya. Djenab pun senang, ini bisa meringankan pikirnya. Malahan iapun mengatakan, alangkah bagusnya bila di desa-desa pun diadakan penitipan anak-anak. Sebab ia sendiri seringkali mengajak anak-anaknya yang masih kecil ke sawah bila di rumah tak ada yang mengawasinya anak-anak.
Seminar wanita tani yang kaya akan pengalaman itu sangat membantu bagi wanita-wanita tani di desa ia mengatakan. Seminar yang telah berhasil dengan sukses itu ternyata telah merumuskan putusan-putusan yang sangat berguna seperti:
— Tentang kedudukan, hak dan peranan wanita tani dalam menyelesaikan Revolusi Agustus 1945
— Membangkitkan wanita tani untuk perbaikan tingkat hidupnya, untuk memperbesar sumbangannya dalam melaksanakan landreform serta dalam meningkatkan produksi. Isinya dimasukkan tuntutan pelaksanaan landreform, tentang Bagi Hasil, tentang produksi bahan sandang pangan
— Meningkatkan kesadaran berorganisasi wanita tani dan meluaskan gerakan-gerakan sosial-ekonomi, pendidikan dan kebudayaan.
Pameran Padi Jagung juga menarik perhatian para pengunjung. Kecuali itu pun diadakan pameran hasil tanaman wanita tani beserta alat-alatnya.
Adapun masalah yang penting dirasakan oleh para pengundang dan peserta ialah pelaksanaan dari putusan Seminar itu sendiri yang berarti juga mengajak sebanyak-banyaknya wanita tani.