Djedjak-langkah Wanita 1961
Secara sepintas lalu dapat disimpulkan bahwa tahun 1961 mengandung harapan besar akan kegiatan-kegiatan luar biasa di kalangan wanita untuk ikut serta di segala lapangan kehidupan bangsa kita. Tanda-tandanya kita jumpai hampir setiap hari di surat-surat kabar; kita menginjak dalam tahun baru itu belum lama rasanya, namun sudah ada beberapa hal yang dapat dilaporkan.
Rupa-rupanya para wanita sedang giat menyusun barisan-barisannya supaya dapat menyempurnakan tugas kewajibannya masing-masing. Kita beritakan misalnya bahwa telah diadakan Seminar Nasional Wanita Tani antara tanggal 17 sampai dengan 20 Januari di Gedung Wanita Jakarta, yang diselenggarakan oleh Gerwani; pada tanggal 15 Januari diadakan pembicaraan umum Tentang Kesejahteraan Keluarga dalam Pembangunan Semesta yang akan diselenggarakan dalam rangka lustrum Wanita Demokrat Indonesia; antara tanggal 4 dan 7 Januari telah diselenggarakan Konferensi Bhayangkari seluruh Indonesia di Semarang; bulan ini juga diadakan Konferensi Persit seluruh Indonesia di Magelang; delegasi Indonesia berangkat ke Konferensi Wanita Asia-Afrika di Kairo; pada akhirnya, sedang menunggu kabar-kabar selanjutnya mengenai organisasi-organisasi wanita lainnya kita sedang sibuk mengadakan persiapan untuk mengadakan Kongres Wanita Indonesia nanti pada tanggal 6, 7 dan 8 Februari di Gedung Wanita di Jakarta.
Segala kegiatan di kalangan wanita ini menunjukkan bahwa kita dengan sekuat tenaga ikut serta dalam kehidupan bangsa kita, baik di lapangan sosial, ekonomi, kebudayaan maupun juga politik; baik nasional, maupun juga internasional. Kita dengan sekuat tenaga ikut serta dalam pembangunan semesta, dan di sampingnya tidak melupakan kewajiban kita yang utama, ialah memelihara dan menyelamatkan keluarga kita. Kita memperhatikan landreform, karena yakin, bahwa keadaan ekonomi kita bergantung kepada urusan pembagian tanah secara adil, dan di sampingnya tidak melupakan bahwa justru untuk memperbaiki ekonomi kita itu, para wanita harus memperhatikan dan harus mencapai kepandaian yang lebih besar dalam hal kerajinan tangan.
Kita menginginkan adanya Undang-undang Perkawinan untuk menjamin hak-hak wanita dalam perkawinan dan keluarga. Kita bersama-sama dengan rakyat negara-negara Asia, Afrika dan lain-lainnya berjuang menentang imperialisme dan kolonialisme dan segala penindasan. Kita berjuang untuk menjaga perdamaian dunia dan di negeri kita sendiri kita menjaga adanya persatuan di seluruh bangsa.
Untuk hal itu kita mulai dengan menggalang persatuan itu di kalangan kita sendiri. Maka di sinilah terletak arti peristiwa yang kita hadapi bersama, ialah menjadikan Kongres Wanita Indonesia yang akan datang sukses yang besar. Ini berarti mencapai persatuan di kalangan wanita yang besar pula.
Bersatu kita teguh, bercerai kita jatuh. Kita harus bersatu untuk menghadapi segala beban pada pundak kita, demi kepentingan keluarga, rakyat dan negara kita. Kita harus ingat bahwa Irian Barat belum kembali ke pangkuan tanah air kita. Hanya dengan persatuan Irian Barat dapat kita rebut kembali.