Arsip Tahun 1961

Wanita A-A bertemu dikota Seribu Menara

-
Api Kartini, 1961, No. 1 Th. 3, pp. 6, 20

Pada tanggal 14-23 Januari 1961 Kairo, kota Seribu Menara telah menjadi pusat perhatian wanita seluruh Asia-Afrika. Wanita dari negeri-negeri Asia Afrika telah mengirimkan utusannya ke Konferensi Wanita Asia-Afrika, termasuk Indonesia yang diwakili oleh Nyonya Mr. Iwanah Priyono, Nyonya Francisca Fangiday, Nyonya Sugiarso, Nyonya Lies Harjoto dan Nyonya Arifin Sudarjo.

Berbagai masalah yang menjangkut kaum wanita dan perjuangannya telah dibicarakan dalam pertemuan tersebut mengenai soal-soal ekonomi, masalah kebudayaan, sosial dan hak-hak politik untuk wanita, tentang peranan wanita dalam perjuangan untuk kemerdekaan nasional dan mempertahankan perdamaian.

Dalam pidatonya Nyonya Priyono antara lain mengemukakan bahwa adalah terletak dalam kodrat wanita bahwa wanita itu melahirkan dan memelihara kehidupan. Oleh karena itu adalah menjadi kewajiban tiap wanita untuk menentang peperangan, apalagi peperangan modern dengan senjata-senjata atom dan nuklir yang menghancurkan segala kehidupan.

Demikian juga dinyatakan bahwa untuk menjamin perdamaian dunia, kolonialisme dan imperialisme harus dihapuskan. Maka itu kaum wanita harus bersama-sama berjuang untuk mengakhiri segala macam kolonialisme dan imperialisme. Dan kalau kemerdekaan sudah tercapai, maka kewajiban kita kaum wanita adalah turut serta memelihara dan mengisi kemerdekaan itu dengan hal-hal yang membuat kehidupan lebih bahagia dan lebih indah untuk tiap-tiap manusia, kehidupan tanpa ketakutan terhadap percobaan-percobaan bom A dan H, tanpa rasdiskriminasi dan tanpa lain-lain hal yang memalukan bagi manusia.

Konferensi telah berhasil dengan sukses dan telah mengeluarkan:

— Seruan oleh Konferensi Wanita Asia-Afrika yang Pertama ialah menyerukan untuk bersatu dalam perjuangan untuk mencapai tujuan-tujuan yang diletakkan oleh Konferensi ini.

— Rekomendasi perjuangan untuk kemerdekaan Nasional dan Perdamaian.

— Resolusi tentang Aljazair.

— Resolusi yang memprotes terhadap percobaan bom atom Perancis.

— Resolusi mengenai PBB yang menuntut pada negeri-negeri Asia Afrika anggota PBB untuk mengikutsertakan wanita dalam delegasi-delegasi yang dikirimkan untuk mengikuti sidang-sidang tahunan PBB dan mengizinkan pada wanita-wanita yang cakap untuk menduduki pos di diplomatik.

Delegasi wanita Indonesia telah mengadakan saling tukar pengalaman dengan delegasi lain-lainnya.

Terhadap perjuangan Rakyat di Aljazair, Laos delegasi wanita Indonesia menyatakan dukungannya yang penuh. Kecuali itu delegasi wanita Indonesia bisa menemui sekretaris P.M Patrice Lumumba menyatakan setia kawannya terhadap perjuangan Rakyat Kongo yang adil. Demikian pula tak lupa menyampaikan mainan kanak-kanak kepada anak-anak P.M. Patrice Lumumba yang bersekolah di Kairo yaitu Francois, Patrice dan Juliana.