Sedjarah Perdjuangan jang Berkesan
SUATU pameran sejarah perjuangan yang sangat berkesan telah diadakan oleh Gerakan Wanita Indonesia — GERWANI di ibu kota mulai tanggal 5 Juni tahun ini, berkenaan dengan ulang tahunnya yang ke-10. Pameran yang kecil dan sederhana tetapi cukup manis dan berselera ini memberi gambaran yang jelas tentang lahirnya, tumbuhnya serta perkembangannya Gerwani sejak ia didirikan pada tanggal 4 Juni 1951, hingga berumur 10 tahun ini. Ia juga memberikan gambaran tentang bidang-bidang yang sangat luas yang telah tercakup oleh aktivitas Gerwani, yaitu di bidang-bidang pembelaan hak-hak dan kepentingan anak-anak, perdamaian dunia, hak-hak wanita termasuk hak-hak politik serta hak-hak sosial dan ekonominya, pendidikan dan penerangan di kalangan wanita berupa PBH, kursus-kursus kader dan kewanitaan, penerbitan-penerbitan yang, aksi-aksi politiknya, aksi-aksi untuk membela hak-hak demokratis dan usaha-usaha yang dalam mempererat persahabatan antara wanita sedunia. Suatu peta tanah air kita dengan diberi tanda-tanda yang menunjukkan berapa dan di mana saja Gerwani sudah mempunyai cabang-cabang yang, yaitu mulai dari Daerah Daswati I Aceh sampai kepada Daerah Daswati I Irian Barat, semuanya berjumlah 185 cabang, yang telah berdiri di semua Kota Kabupaten dan Kotapraja sampai kepada ibu kota Irian Barat Soa-siu. Suatu statistik keanggotaan juga menunjukkan bahwa Gerwani dalam 10 tahun pertumbuhannya dapat mencatat suatu perkembangan keanggotaan yang mengagumkan pula, yaitu dimulai dengan 6.000 menjadi 710.000 pada waktu sekarang ini.
Penulis berkesempatan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Ketua Umum Gerwani Nyonya Umi Sardjono, ialah terutama mengapa dan bagaimana Gerwani memperoleh sambutan yang begitu besar dari kaum wanita kita dan dapat mencapai perkembangan yang begitu pesat dalam waktu yang singkat itu. Pertama ditegaskan oleh Nyonya Umi Sardjono bahwa Gerwani bukanlah ciptaan dari beberapa orang saja.
Ada karena kebutuhan.
"Gerwani lahir tak hanya sekadar untuk genap-genap saja, tetapi ia merupakan sesuatu yang ada karena kebutuhan. Kaum wanita yang selama itu berjuang melawan kolonialisme Belanda, kaum wanita yang selama itu berjuang untuk melawan penindasan feodal yang terkutuk, tak mau lagi diinjak-injak menyerah kepada segala kebuasan penjajahan. Untuk itulah Gerwani dilahirkan." Ditekankan olehnya bahwa dalam kongresnya yang pertama di Surabaya pada tanggal 17-22 Desember 1951, dengan tegas seluruh pesertanya telah membulatkan tekadnya untuk berjuang lebih keras untuk mencapai kemerdekaan nasional, kebebasan demokrasi, persamaan hak bagi wanita dan laki-laki, undang-undang perkawinan, dan perdamaian. Dilihat dari programnya, maka ini menunjukkan bahwa Gerwani, yang pada waktu itu masih bernama Gerwis, mendasarkan perjuangannya kepada kepentingan yang paling dibutuhkan oleh kaum wanita, rakyat dan negara. Warga Gerwis dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat tak dapat digentarkan oleh siapapun, sekalipun harus menghadapi rintangan-rintangan yang berat seperti razia Agustus Sukiman yang kejam, fitnah-fitnah dan kutukan-kutukan dari kaum tua yang kolot dan golongan-golongan yang tidak setuju akan kemajuan kaum wanita, atau yang menghendaki kaum wanita tetap tinggal di dapur dan buta huruf. Atas perjuangan yang pantang mundur ini, lambat laun disadari oleh masyarakat, bahwa sebetulnya sudah tidak pada tempatnya membiarkan kaum wanita hidup terbelakang dan menderita sebagai budak belian.
Bantu atas keruwetan rumah tangga.
Ketika kami tanyakan mengenai sifat organisasi Gerwani serta aktivitas-aktivitas yang dapat menarik kaum wanita sebegitu banyak ke dalam barisannya, Nyonya Umi Sardjono menjelaskan bahwa Gerwani bukannya suatu organisasi politik tetapi adalah suatu organisasi massa wanita yang berpolitik.
Berbicara tentang aktivitas Gerwani, Nyonya Umi Sardjono menerangkan bahwa dalam gerakan selama masa kongres kedua sampai ketiga itu, ciri khusus dari aktivitas yang sangat luas dan mempunyai pengaruh baik bagi kaum wanita ialah mengenai pembelaan hak-hak wanita, seperti pembelaan terhadap Moesuri, aksi mengutuk Atamimi, Nyi Gust Rai Ari, Siti Nasiah dll. Dan banyak lagi keruwetan-keruwetan rumah tangga yang atas bantuan-bantuan Gerwani dapat diselesaikan dengan damai dan baik. Sudah barang tentu aksi-aksi yang lain juga tak kurang pentingnya, umpamanya soal-soal pendidikan anak-anak, mendirikan rumah-rumah sekolah gotong-royong, taman kanak-kanak, mengadakan kerja sama untuk mengirimkan lauk-pauk ke garis depan di mana prajurit-prajurit kita sedang bertugas membasmi pemberontak-pemberontak PRRI/Permesta, DI/TII, dll.
Perkembangan ini terlihat sekali sesudah pemilihan umum. Kader-kader Gerwani bertambah pengalamannya, seperti yang aktif dalam pemilihan umum tidaklah kurang dari 23.000 orang yang menjadi anggota P3S. Sebagai hasilnya Gerwani telah mempunyai anggota-anggota yang duduk dalam Konstituante enam orang, DPR lima orang, DPRD ada 62 orang. Bahkan seorang telah dipilih menjadi Ketua DPRD, dan seorang lagi terpilih menjadi anggota DPD.
Usaha-usaha sosial lainnya seperti Koperasi-koperasi, poliklinik, kursus dukun bayi, dll. boleh dikatakan belum berkembang biak seperti perkembangan Taman Kanak-kanak yang sudah berjumlah 326 itu. Tetapi Gerwani dalam kongresnya yang ketiga telah mendiskusikan bahwa usaha-usaha sosial harus menjadi kegiatan untuk sekadar meringankan beban anggota.
Bagaimana Gerwani membuat anggota-anggota memperoleh dan menambah militansinya, kami tanya selanjutnya. Untuk ini, kata Nyonya Umi, di samping pengalaman-pengalaman dalam perjuangan itu sendiri yang meningkatkan militansi anggota kami, juga dengan jalan pendidikan wajib yang bermata pelajaran pokok empat, yaitu Sejarah Gerakan Nasional, Sejarah Gerakan Wanita Nasional dan Internasional, Organisasi dan perkembangan Gerwani, dan sejarah GWDS dan soal-soal perdamaian. Usaha-usaha pendidikan ini telah dilangsungkan bertingkat-tingkat, Pusat, dan daerah-daerah Kabupaten dan Kecamatan. Sekalipun belum merata, tetapi hasil-hasil yang sudah dicapai ternyata dapat menjadi perkembangan Organisasi, karena kader-kader Gerwani menjadi tambah pengetahuannya yang membuat lebih militansinya.
Perlu persahabatan wanita sedunia.
Atas pertanyaan selanjutnya Nyonya Umi menerangkan bahwa di samping Gerwani menjadi anggota dari Kongres Wanita Indonesia yaitu untuk mengusahakan persatuan dan kerja sama dari segenap wanita tanah air kita guna kemajuannya, Gerwani juga menjadi anggota dari Gabungan Wanita Demokratis Sedunia. Ini adalah karena Gerwani berpendapat pula bahwa setiap ibu, setiap wanita di mana pun ia berada di dunia ini pada hakikatnya mempunyai cita-cita yang sama, yaitu untuk mencapai emansipasi sepenuhnya, untuk mencapai kebahagiaan kekeluargaan dan ini hanya mungkin bilamana penindasan dari manusia atas manusia sama sekali dilenyapkan, bilamana tak ada lagi ancaman peperangan dan perdamaian dunia tetap terpelihara. Maka untuk inipun perlu diusahakan persatuan dan persahabatan antara kaum wanita dari berbagai negeri di dunia agar bersama-sama memperjuangkan apa yang menjadi cita-citanya yang bersama pula.
Sesuaikan kegiatan organisasi dengan kepentingan rumah tangga.
Satu soal yang juga mendapat perhatian sepenuhnya dari Gerwani, kata Nyonya Umi Sardjono akhirnya, adalah soal menyesuaikan kegiatan organisasi dengan kepentingan rumah tangga. Ia menunjukkan pada salah satu pidato-pidatonya di mana ditekankan soal “membina sifat kewanitaan dalam perjuangan emansipasi”. Ini dimaksudkan bahwa berbeda dengan kaum laki-laki, kaum wanita mempunyai tanggungan khusus terhadap rumah tangga, melahirkan dan memelihara anak-anaknya.
Walaupun sebetulnya hal-hal kerumahtanggaan tidaklah berarti sepenuhnya menjadi tanggungan kaum ibu sedang para bapak hanya berdiri sebagai penonton. Tidaklah demikian. Dengan demikian kita menyadari bahwa sekalipun kita aktif dalam organisasi, kewajiban rumah tangga tidak bisa kita abaikan. Pendapat ini telah menjadi pedoman para aktivis-aktivis Gerwani. Karena itu pada umumnya aktivis-aktivis kita dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan mendapat bantuan baik dari para suaminya. Sehingga pekerjaan Organisasi bisa lancar dan mencapai sukses baru yang menggembirakan.
Dan dengan ini kami tinggalkan bukannya pameran tetapi juga kesan-kesan perjuangan yang sangat berkesan itu. (Slm)