Arsip Tahun 1960

BOM ATOM meneruskan PEMBUNUHAN sesudah limabelas tahun

-
Api Kartini, 1960, No. 8 Th. 2, p. 20

Lima belas tahun telah lampau sejak Hiroshima dan Nagasaki menjadi lautan api, darah berhamburan penuh dengan ratusan ribu orang terbakar dan rintihan, tangisan orang yang luka yang sedang menghadapi maut. Ini adalah gambaran yang sesungguhnya dari perang dan bila perang pecah kembali, keadaannya akan lebih mengerikan lagi.

Kampanye yang berkobar-kobar dan terus menerus terhadap dilenyapkannya penghancuran kriminal ini adalah atas inisiatif rakyat Jepang dan dilakukan oleh rakyat cinta damai di seluruh dunia selama 15 tahun. Meskipun demikian, 15 tahun adalah tidak cukup lama untuk memberikan ganti semua yang hilang karena dijatuhkannya bom atom.

Walaupun oposisi jutaan rakyat Jepang makin besar, pemerintah Jepang telah menandatangani dan belum lama ini meratifikasi pakta militer Jepang-Amerika Serikat. Dengan persetujuan ini Jepang akan digunakan sebagai pangkal militer Amerika.

Berhubung pada tanggal 19 Mei 1960 adalah hari ratifikasi, rakyat Jepang semakin tetap akan meneruskan perjuangannya dengan jalan oposisi sampai pakta militer tersebut dihapuskan dan mendirikan Jepang sebagai negeri yang cinta damai.

Pada 5 April 1960, Hiroko Kajiyama meninggal karena leukemia limfatik akut (ialah disebabkan karena radiasi atom). Ia meninggal pada umur 17 tahun. Hiroko Kajiyama menderita karena bom atom Hiroshima lima belas tahun yang lalu. Pada waktu meledaknya bom atom, ia berada di rumahnya 1,5 km dari tempat peledakan itu.

Di bawah ini kami muat surat ibu Hiroko yang disampaikan pada delegasi wanita Jepang yang mengunjungi sidang Musyawarah Wanita Internasional yang diadakan pada peringatan Setengah Abad Hari Wanita Internasional di Kopenhagen pada tanggal 21 April 1960.

"Ayah! Ibu! aku sangat sakit" demikian rintihan anakku Hiroko.

Aku tak akan lupa pada tanggal 6 Agustus 1945. Kapal terbang B-29 meraung-raung di Hiroshima dan kelihatan lagi di udara. Pada saat aku merasa angin panas pada pipiku, kota Hiroshima menjadi neraka di dunia dan kemudian tidak bisa kelihatan lagi. Aku bersembunyi dengan ibuku yang sudah tua menggendong bayiku yang masih 20 bulan; Hiroko demikianlah nama bayiku ku sembunyikan di antara badan-badan orang yang sudah mati terserak-serak. Rumah yang kucintai telah terbakar, dan aku seolah-olah tak tahu apa yang harus kulakukan, aku berdiri di tengah lautan api.

Kemudian pertama-tama aku menumpang pada keluargaku di lain tempat. Aku bergembira karena keluargaku masih: anakku Hiroko, suamiku, yang telah didemobilisasi dan aku sendiri. Waktu telah lalu. Kami telah senang selama 15 tahun. Hiroko sekolah dan sampai duduk di kelas dua sekolah menengah atas.

Tetapi pada tanggal 18 Maret, pada waktu Hiroko akan menghadapi ulangan, ia mengatakan padaku "Ibu, saya menjadi sangat capai". Kemudian air mukanya menjadi pucat. Saya kira ia masuk angin dan saya bawa ke dokter, akan tetapi dokter pun tak bisa mengatakan penyakitnya. Hiroko sangat sakit, panas keras dan hari demi hari menjadi lemah. Dengan cepat ku bawa ke rumah sakit umum dan ia diperiksa lagi. Setelah diperiksa ternyata ia menderita leukemia, darah merah menjadi kurang. Aku sangat heran. Aku mengalami kegelapan, seolah-olah sudah terbayang di muka mataku. "Hiroko tak mendapat suntikan lagi, tetapi sekarang" demikian kataku pada diri sendiri. Aku berpikir, ia akan sembuh bila diurus dengan baik dan demikianlah selalu kulakukan. "Aku sangat sakit, ayah, ibu!" kata Hiroko mulai pagi sampai sore. Kami sangat sedih merasakan sakitnya. Darah keluar dari mulutnya; dari hidungnya! Ia tak bisa lagi minum seteguk pun. Dan akhirnya kuberi air secangkir. Kemudian ia meninggal, sekalipun sudah diberi tambahan darah dan suntikan dan ia selama seminggu terus menderita.

Aku selalu ingat akan dia, penderitaan yang dialaminya. Sekarang ini senjata-senjata nuklir masih dicoba. Sebagai ibu aku mengharap semoga dunia ini menjadi damai dan kejadian yang mengerikan jangan sampai terjadi lagi.