Persahabatan jang semakin kokoh
Dari hari ke hari dan tahun demi tahun persahabatan antara Republik Indonesia dan URSS — antara rakyat Indonesia dan rakyat Uni Soviet menjadi semakin kokoh.
Kunjungan-kunjungan para negarawan setia timbal balik dan yang diperkokoh dengan saling kunjungan Presiden Sukarno dan Perdana Menteri Khrushchev, delegasi-delegasi dari berbagai lapangan baik dari pemerintahan maupun dari organisasi-organisasi, dari kalangan seniman dan seniwati, olahragawan, tokoh-tokoh tak kunjung padam menyemarakkan persahabatan dan udara perdamaian.
Ini semua telah dikonkretkan dengan adanya persetujuan-persetujuan kebudayaan; ekonomi yang telah ditandatangani antara kedua negeri tersebut. Berpuluh-puluh pelajar Indonesia yang memasuki Universitas Persahabatan di Moskow adalah merupakan bibit-bibit baru yang mengandung persahabatan tak kunjung patah dan perdamaian yang kelak akan berbuah untuk menyebarkan ilmunya guna pembangunan Republik Indonesia, untuk masyarakat yang adil dan makmur.
Proyek-proyek yang kini sedang dibangun di antaranya stadion Asian Games oleh ahli-ahli Uni Soviet yang nanti akan menjadi monumen persahabatan antara kedua negeri, kini sedang hebatnya dikerjakan. Demikian juga adanya Pekan Industri URSS di Jakarta baru-baru ini yang setiap harinya berjubel dikunjungi oleh rakyat Indonesia menunjukkan betapa semakin kuatnya negeri Soviet itu. Apa saja yang tidak dipertunjukkan. Mulai dari Sputnik, mesin-mesin untuk pembangunan, pesawat-pesawat televisi, alat-alat transport, perkakas rumah tangga sampai kepada mainan anak-anak bisa dilihat. Sebab kini Uni Soviet adalah satu negeri yang ekonominya paling kuat di dunia. Kecepatan yang tinggi dan stabil dari perkembangan produksi sosial yang terencana itu merupakan landasan yang menjamin terus bertambah baiknya taraf hidup rakyat. Rencana Tujuh tahun mencantumkan untuk lebih cepat memperbesar penanaman modal dalam industri-industri ringan dan bahan makanan daripada dalam ekonomi nasional sebagai keseluruhan.
Di Uni Soviet pajak dihapuskan, jam kerja diperpendek dan penghasilan dinaikkan.
Kebudayaan pun juga makin meningkat. Rakyat Indonesia baru-baru ini juga mendapat kesempatan untuk menyaksikan pertunjukan kesenian Soviet yang termasyhur itu. Sambutan yang riuh ditujukan pada para seniman-seniwati Soviet, sebab di samping pertunjukannya itu sendiri, juga menghidangkan lagu-lagu Indonesia yang populer antara lain Ayam dan lapeh.
Pada tanggal 7 November tepat pada ulang tahun yang ke-43 berdirinya URSS Badan Hubungan Kebudayaan Indonesia — Uni Soviet menyelenggarakan malam peringatan pada tanggal 29 November dalam suasana persahabatan yang meriah sekali.
Ini adalah tanda persahabatan yang semakin kokoh.
Sesudah mengunjungi Musyawarah Wanita Internasional untuk memperingati Setengah Abad Hari Wanita Internasional di Kopenhagen pada bulan April 1960 delegasi wanita Indonesia yang terdiri dari berbagai organisasi wanita, tokoh-tokoh, seniwati mendapat undangan dari Komite Wanita Soviet untuk mengunjungi negeri tersebut. Di samping mengunjungi berbagai tempat, mengadakan pertemuan ramah tamah, mempelajari dan menyaksikan kehidupan dan pekerjaan wanita Soviet menambah eratnya persahabatan yang sudah terjalin di antara wanita Indonesia dan wanita Soviet. Demikian pula seniwati Indonesia Effi Tjoa menghidangkan beberapa kali nyanyian-nyanyian Indonesia, dll.