Arsip Tahun 1959

Hati Wanita Djerman enggan dibelah

S. Djin
Api Kartini, 1959, No. 2 Th. 1, pp. 18-19

Bagi siapa yang melihat dari udara kota Berlin di musim semi dalam kehijauan taman-taman dan kesegaran bunga-bunga apel di sela-sela danau-danau kecil kebiruan, akan tak terkilas dalam angan mendung hitam menggumpal di atas panorama indah, bahwa Berlin di jantung Eropa ini merupakan pusat “perang dingin” antara Barat dan Timur yang sewaktu-waktu bisa menyala membahayakan perdamaian dunia. Tetapi pada saat kaki terinjak bumi Berlin terasa sudah betapa “teririsnya” kota megah ini. Akibat dikalahkannya Jerman-Hitler dalam perang dunia ke-II maka Berlin diduduki oleh Inggris, Perancis, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Terbagilah secara politik Jerman itu menjadi Republik Federal Jerman (RFD) dan Republik Demokrasi Jerman sedang Berlin terletak dalam kantong RDD.

Penulis pernah berkesempatan melihat sendiri kota Berlin dalam serba keragamannya Berlin Barat yang terkenal dengan night-cafetaria dan kemegahan lampu-lampu malam sebagai demonstrasi “dunia merdeka”. Tetapi surat kabar jarang menyebut pengangguran yang meningkat dan harga-harga yang semakin tinggi. Berlin Timur memang daerah yang dahulunya tempat pekerja-pekerja serta bengkel-bengkel sehingga sekilas akan tampak tak seramai di Barat, terutama di pagi hari di mana penganggur-penganggur telah tertampung dalam tempat kerja masing-masing, tetapi tak ada juga bisa menyangkal bahwa setiap penduduk di Timur bisa makan dengan cukup dan tak mencemaskan pendidikan anak-anak maupun hari tua mereka, karena pemerintahan adalah untuk kepentingan mereka.

Penulis bercakap-cakap dengan wanita Jerman baik Timur maupun Barat dan sesungguhnya hati mereka mendebar keras hasrat agar tanah air mereka bersatu kembali dalam suasana yang damai. Tak ada ibu Jerman dalam hatinya membenarkan senjata-senjata atom tertumpuk di Jerman Barat untuk dihadapkan ke Timur. Perjuangan menentang militerisasi Jerman Barat dilakukan dengan geram oleh wanita di Barat walaupun mendapat rintangan sehebat-hebatnya.

Nyonya Lily Nevinny dari Jerman Barat menyatakan antara lain “Banyak sekali wanita Jerman di Jerman Barat yang sadar akan bahaya persenjataan atom, tak gentar untuk berjuang dengan segenap tenaga mereka melawan.” Nyonya Renate Riemek guru sejarah pada sekolah guru Wuppertal mengambil inisiatif untuk mengirim seruan yang ditandatangani oleh 44 profesor kepada serikat-serikat buruh. Di berbagai pertemuan, rapat-rapat yang tak terhitung jumlahnya, ia pun tak telah untuk menjelaskan tentang bahaya atom dan mengajak mereka untuk tak membiarkan mereka dilumpuhkan oleh ketakutan yang dibuat-buat dalam perjuangan mereka menentang maut atom. Nyonya Elisabeth Heimpel, istri profesor di Gottingen mengumpulkan 10.000 tanda tangan dan mengirimkannya kepada pemerintah untuk memprotes persenjataan atom. 18 organisasi wanita di Hamburg memprotes dalam surat mereka kepada Dr. Adenauer dan Dewan Federal menentang pembentukan basis-basis atom.

Bertahun-tahun Gabungan Wanita Seluruh Jerman yang meliputi wanita dari Timur dan Barat telah berusaha sekeras-kerasnya untuk mempersatukan kaum wanita dalam perjuangan menentang bahaya atom.

“24 Organisasi wanita di Dortmund mengajukan protes terhadap ditempatkannya pasukan-pasukan Inggris yang dipersenjatai dengan senjata-senjata nuklir di daerah-daerah yang rapat penduduknya.”

Sebuah contoh yang mencolok ialah peristiwa penahanan Nyonya Renate Kruse, seorang istri buruh tambang di Hochlarmark Jerman Barat yang ikut berjuang melawan dihidupkannya kembali militerisme Jerman pada tahun 1955 dan 1957, sedang pada permulaan Maret 1959 ia untuk ketiga kalinya dipisahkan dari keluarganya yang mencinta dimasukkan penjara atas tuduhan bahwa “tak menunjukkan pengertian atas penahanan-penahanan yang lalu dan masih meneruskan berjuang untuk cita-citanya.” Sampai sekarang Nyonya Renate Kruse yang mempunyai anak laki-laki berumur dua tahun masih meringkuk dalam penjara walaupun beribu buruh tambang dan golongan-golongan penduduk lainnya meminta kebebasannya. Gabungan wanita Demokratis Jerman telah mengeluarkan seruan yang mengharukan sebagai protes terhadap keputusan yang menentang semua hak-hak manusia dan melanggar semua kemerdekaan. Gabungan wanita Demokratis Sedunia yang merangkum 200 juta kaum wanita di segenap benua pun telah mengirim telegram protes terhadap dipenjarakannya Renate Kruse dan menuntut agar segera dibebaskan.

Demikian wanita Jerman bersama-sama dengan saudara-saudaranya di Timur yang telah memperoleh segala hak-hak kebebasannya telah menunjukkan berkembangnya kesadaran mereka terhadap tanggung jawab mereka untuk membela kehidupan.

Nyonya Ursula Wohlenberg dari Republik Demokrasi Jerman menyatakan: “Republik Jerman Demokratis tidak mengecewakan harapan yang diletakkan pada rakyat Jerman. Di sini politik perdamaian dan meredakan ketegangan telah dianut sejak semula. Pemecahan masalah Jerman tak hanya menjadi kepentingan rakyat Jerman, tetapi Eropa seluruhnya. Wanita Jerman di RDD berjuang dengan keberanian untuk dicapainya persetujuan perdamaian.”

Ucapan-ucapan wanita-wanita Jerman itu menunjukkan ketetapan hati mereka dalam menyadari bahaya yang mungkin timbul dari ketegangan masalah Jerman, di jantung Eropa. Tak hanya wanita di Jerman di Eropa ataupun di lain-lain benua tetapi kita warga Indonesia dengan penuh perhatian mengikuti perkembangan Konferensi di Jenewa dalam usaha memecahkan masalah Jerman yang merupakan bisul parah di hati benua Eropa. Hati wanita Indonesia beserta saudara-saudara wanita di Jerman baik di Barat maupun di Timur yang memberikan segenap hidup dan daya mereka untuk mengatasi bahaya peperangan baru dan untuk menyatukan tanah air mereka di bawah panji-panji perdamaian. Hati wanita Jerman enggan terbelah, sebagaimana hati wanita Vietnam maupun Korea sebagaimana hati wanita-wanita Indonesia pun enggan terpisah dari saudara-saudaranya di Irian Barat yang masih dalam genggaman penjajah. Untuk itu persatuan wanita di seluruh dunia adalah suatu kekuatan yang tak terabaikan.