Hari Nasional Bulgaria 9 September 1959
Seperti halnya dengan Indonesia, Bulgaria adalah suatu negeri di mana rakyatnya pernah menderita di bawah kekuasaan asing.
Tanggal 9 September 1944 setelah melewati perjuangan yang penuh sejarah kepahlawanan melawan penjajahan kerajaan Turki Ottoman, kemudian melawan penindasan fasisme Jerman, rakyat Bulgaria mencapai kemerdekaannya dan mendirikan suatu negara berpemerintahan rakyat.
Di masa penindasan yang lampau, kaum wanita Bulgaria acapkali direndahkan dan diinjak-injak haknya. Kaum buruh wanita dibayar 30-40% lebih rendah dari buruh laki-laki untuk pekerjaan yang sama. Wanita desa menjadi korban dari kesengsaraan, kemiskinan dan buta huruf.
Sekarang di Bulgaria baru, impian kaum wanita yang berabad-abad lamanya telah menjadi kenyataan. Mereka mendapat hak sama dengan kaum laki-laki. Mereka adalah warga negara yang terhormat, dan dengan antusiasme ikut serta dalam semua lapangan kehidupan: politik, ekonomi dan kebudayaan. Banyak pekerjaan penting yang dahulunya tertutup untuk wanita, sekarang menjadi terbuka baginya.
Di samping bekerja sebagai buruh, petani, pegawai pemerintah, dokter, insinyur, artis, maka wanita Bulgaria harus dapat menjalankan tugasnya sebagai istri dan ibu. Dan bagaimanakah mereka dapat membagi waktu pekerjaannya di masyarakat dan tugasnya di rumah? Ini dimungkinkan berkat usaha-usaha pemerintahnya untuk membebaskan kaum wanita dari pekerjaan rumah yang tidak produktif, serta memberikan pemeliharaan kepada ibu dan anak-anak dengan jaminan-jaminan sosial yang cukup. Di kota-kota dan desa-desa terdapat banyak dapur-dapur umum yang menyajikan makanan-makanan yang lezat. Tiap-tiap perusahaan mempunyai kantin, begitu pula pertanian-pertanian koperasi dan dari sini rakyat pekerja dapat membeli makanan. Ada pula dapur yang khusus membuat makanan untuk bayi. Rumah-rumah cuci umum, toko-toko bahan makanan sedang makin banyak didirikan di seluruh negeri. Seorang ibu yang akan melahirkan mendapat 120 hari libur dengan dibayar penuh upahnya, dan seorang ibu yang masih menyusui bayinya bekerja 2 jam kurang dari jam kerja biasa tanpa dikurangi upahnya.
Demikianlah maka wanita Bulgaria sekarang menjadi penentu nasibnya sendiri dan pembangun sosialisme, ialah sendi kehidupan politik, ekonomi dan kebudayaan negaranya.