Kundjungan Persahabatan Kenegeri Kangguru
Wanita Australia rajin dan giat: Bahwasanya perkunjungan ke negara tetangga kita sebelah selatan atas undangan Koordinasi Panitia Hari Wanita Internasional Australia adalah untuk mempererat persahabatan antara kedua bangsa Indonesia-Australia pada umumnya dan wanita Indonesia-Australia khususnya tak perlu kiranya dijelaskan lagi.
Selama hampir sebulan di negeri Kanguru itu Panitia berusaha supaya utusan wanita dari Indonesia dapat bertemu dan bergaul dengan wanita-wanita Australia sebanyak mungkin. Selama di sana hanya semalam saja menginap di hotel. Dan seterusnya saya menumpang di keluarga Australia. Karenanya saya berkesempatan mempelajari kehidupan sehari-hari wanita negeri tetangga itu baik kehidupannya dalam rumah tangga dan keluarga maupun dalam organisasi wanita, meskipun sudah tentu tidak mendalam. Mengenai acara selama di sana meskipun dapat dikatakan sangat padat tetapi menyenangkan dan bermanfaat. Antara lain menghadiri pertemuan-pertemuan yang 45 kali jumlahnya, meninjau taman penitipan kanak-kanak, Sekolah Tinggi khusus untuk anak-anak wanita, berbagai rumah sakit, beberapa industri (baja, kertas dan pakaian) dan pertemuan-pertemuan kecil dengan wanita-wanita terkemuka anggota Parlemen, pengarang, juga pertemuan dengan buruh wanita di tempat kerja mereka (pada waktu mengaso untuk makan siang).
Selain itu juga berkesempatan meninjau tempat-tempat yang indah di tepi pantai laut dan tempat-tempat nyaman di luar kota tempat beristirahat pada hari Minggu atau hari libur. Juga sempat berkunjung kepada keluarga buruh biasa: suami-istri bekerja keras supaya dapat beli rumah, lemari es, mesin cuci, pesawat televisi dan mobil. Sebaliknya sempat juga berkunjung kepada keluarga industrialis yang bertempat tinggal di luar kota; sang istri aktif dalam organisasi massa dan sang suami ............. mula-mula tidak dapat percaya bahwa di Indonesia juga ada pabrik obat.
Wanita Australia memang sangat ramah-tamah, rajin bekerja baik di rumah tangga maupun di masyarakat, tidak berbeda dengan wanita-wanita kita sendiri. Wanita Australia yang saya jumpai itu giat berjuang untuk mendapatkan hak-haknya yang penuh, aktif bekerja untuk kebahagiaan ibu dan anak, tekun menyumbangkan andilnya untuk mencegah timbulnya peperangan baru. Mereka berusaha sungguh-sungguh untuk mempererat persahabatan di antara wanita dan anak bangsa-bangsa dan aktif berjuang untuk terpeliharanya perdamaian.
Sebagai ilustrasi dapat dikemukakan di sini mengenai kehidupan keluarga Australia dengan saya dijumpai baik di keluarga buruh biasa, domine, dokter, industrialis maupun di keluarga seniman: sang suami membantu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Yang saya lihat ialah bahwa bapak domine menyiapkan makan pagi dan membikin kopi. Saya kira mula-mula bahwa ia hanya untuk menghormati tamu yang datang dari jauh. Kemudian terbukti salah terkaan saya itu, karena untuk kedua anaknya yang hendak ke sekolah dan untuk istrinya ia menyiapkan juga sarapan pagi (menggoreng telur segala macam) dan bikin kopi. Di keluarga buruh dan industrialis kebetulan hal yang sama juga saya lihat, sang bapak mencuci piring dan alat-alat dapur, di keluarga seniman suami momong anaknya yang masih 1½ tahun. Perlu kiranya dijelaskan bahwa pada umumnya keluarga Australia tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Pokoknya kaum laki-laki bekerja sama dengan istrinya dan saling membantu untuk memenuhi kewajiban bagi keluarganya.
Pandai mengorganisasi: Panitia Hari Wanita International mencerminkan persatuan wanita yang baik sekali untuk menggalang persahabatan di antara bangsa-bangsa terutama Asia Afrika dan perdamaian. Organisasi wanita keagamaan, Seksi Wanita Partai Politik, organisasi wanita untuk kemerdekaan dan perdamaian, organisasi-organisasi wanita massa, komite wanita dari berbagai SB, perseorangan dan wanita-wanita terkemuka mengadakan pertemuan-pertemuan dan kemudian mengajukan resolusi bersama yang mengharapkan berhasilnya dengan baik KTT di Paris. Pada waktu itu belum ada gejala-gejala kegagalan, karena belum ada pengiriman pesawat U-2 Amerika Serikat di atas wilayah Uni Soviet. Tak kurang pentingnya pula adalah pernyataan-pernyataan simpati wanita-wanita Australia kepada perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Selatan dan mengutuk politik apartheid yang dijalankan dengan kejam oleh pemerintah UAS.
Kebetulan sekali pada waktu itu saya mengalami saat-saat dan hari-hari bersejarah dalam perjuangan wanita Australia untuk mencapai hak-haknya. Para wanita mengadakan pekan aksi untuk menuntut persamaan upah bagi buruh wanita untuk pekerjaan yang sama. Sebelumnya wanita Australia sejak permulaan tahun 1900 telah mendapatkan hak pilihnya. Yang pertama-tama mendapatkannya jagat raya kita ini adalah wanita Selandia Baru, dan kemudian yang nomor dua wanita Australia. Tetapi anehnya pada waktu ini buruh wanitanya masih menderita diskriminasi upah. Rata-rata buruh wanita mendapat 75% dari upah buruh laki-laki. Dapat dimengerti bahwa untuk menghapuskan diskriminasi upah ini wanita negeri Kanguru itu berjuang dengan gigih, yang mendapat dukungan dari semua golongan rakyat pekerja, kaum intelek dan lain-lain. Tetapi sayang hingga kini tuntutan yang adil itu belum berhasil. Perlu tentunya dikemukakan, bahwa wanita-wanita anggota-anggota parlemen, wartawan, pelayan restoran, buruh farmasi dan polisi sudah mendapat persamaan upah. Bisalah kita mengambil kesimpulan bahwa wanita-wanita Australia sangat mahir dalam mengombinasikan aksi-aksi yang bersifat internasional dengan tuntutan-tuntutan yang urgent bagi kebutuhan sosial-ekonomis sehari-hari.
Pertemuan-pertemuan mengesankan: Pertemuan-pertemuan besar ataupun kecil memberikan kesan yang mendalam tentang akrabnya persahabatan. Pertemuan-pertemuan itu dihadiri oleh 25 sampai 250 orang. (Australia yang seluas Amerika Serikat itu hanya berpenduduk 10.000.000 orang). Pertemuan-pertemuan itu tidak selalu diadakan di gedung yang besar, kecuali rapat umum. Bahkan kebanyakan bertempat di rumah keluarga. Pertemuan-pertemuan itu singkat, tidak bertele-tele, kena persoalannya tapi tidak meninggalkan keakraban. Sebelum pertemuan berakhir, dihidangkan minum dan kue-kue sambil beramah-tamah. Sering juga pertemuan didahului oleh acara kesenian dengan beberapa nomor nyanyian dan/atau musik. Yang sangat menarik ialah diadakannya lelang kue atau lelang buket bunga setelah pertemuan. Untuk apakah hasilnya. Tak lain tak bukan untuk meringankan biaya pertemuan itu.
Ingin lebih pererat persahabatan: Di antara wanita-wanita Australia banyak sekali yang menyatakan sangat ingin mengetahui lebih banyak tentang perjuangan wanita Indonesia untuk mencapai persamaan hak yang penuh, kebahagiaan ibu dan anak, untuk perdamaian dan sumbangan wanita Indonesia dalam pembangunan.
Mereka ingin mengadakan hubungan langsung dengan wanita-wanita Indonesia yang mempunyai minat mengadakan korespondensi dengan mereka, untuk saling mengenal kehidupan masing-masing. Mereka menganggap perlu untuk lebih mengenal dan lebih mempererat persahabatan dengan wanita-wanita Indonesia, tetangganya yang paling dekat. Saya kira kebutuhan hubungan secara organisasi atau secara pribadi dengan wanita-wanita Indonesia adalah disebabkan karena pers Australia sangat sedikit memuat berita-berita dari Indonesia meskipun kedua negeri itu letaknya sangat berdekatan.
Pun para seniman Negeri Kanguru itu ingin sekali saling menukar pengalaman serta hasil karyanya dengan para seniman/seniwati Indonesia. Dan ...........tidak sedikit pula juga ingin tukar pengalaman dan pengetahuan dalam lapangan memasak, resep-resep masakan Indonesia sangat berlainan dengan resep-resep masakan Australia.