Arsip Tahun 1959

Menjambut Hari Nasional

-
Api Kartini, 1959, No. 4 Th. 1, p. 13

Bulan yang lalu rakyat Indonesia baru merayakan hari Nasionalnya 17 Agustus. Dari hampir seluruh penjuru dunia kita telah menerima ucapan-ucapan selamat, tanda kegirangan dan penghargaan atas hasil-hasil yang telah dicapai oleh rakyat Indonesia dalam perjuangannya selama 14 tahun melawan penjajahan untuk kemerdekaan dan kemajuan tanah airnya. Hangat dan penuh rasa persahabatan sambutan-sambutan itu, terutama yang ialah dari negeri-negeri yang secita-cita, negeri-negeri yang mendukung prinsip-prinsip Konferensi Bandung, ialah anti penjajahan dan penindasan, hidup berdampingan secara damai dan bersahabat, kerja sama untuk memajukan negerinya masing-masing atas dasar persamaan dan saling menghormati.

Maka sebaliknya adalah patut bilamana kita juga menyambut hari-hari Nasional Rakyat-rakyat dan negara-negara yang seperti kita berdiri atas prinsip-prinsip yang sama ini, yang menjunjung tinggi dan memperjuangkan perdamaian dan persahabatan, antara bangsa-bangsa, yang dengan teguh dan konsekuen melawan penjajahan dan penindasan di segala bidang.

Hari Nasional Republik Demokrasi Vietnam 2 September

2 September adalah hari Nasionalnya Republik Demokratis Vietnam, ialah salah satu anggota dari keluarga besar negeri-negeri Asia Afrika, negara yang bersamaan dengan kita mencetuskan Revolusi Agustus, Negara yang seperti kita dengan teguh berjuang untuk mempersatukan wilayahnya ialah Utara dan Selatan, negara yang rakyatnya serta terutama Kepala Negaranya sudah amat terkenal di Indonesia.

Untuk menyambut hari Nasional RDV ini kita muat suatu sajak dari Presiden Ho Chi Minh, yang selainnya menjadi pemimpin besar rakyatnya, juga terkenal dengan sajak-sajaknya yang penuh berisi semangat perjuangan bangsa dan rakyatnya melawan penjajah Perancis, untuk kehidupan yang bahagia, makmur dan sentosa bagi seluruh rakyat Vietnam.

Ho Chi Minh

Bulan menjenguk dari jendela memancing syair, tapi kerja perang menahan daku, hingga tak dapat menciptakannya; gema lonceng candi di pegunungan bawakan daku mimpi musim bunga berita kemenangan dari garis depan.

Sedang aku membaca, burung-burung mengintip dari terali jendela, bayangan bunga bermain-main di batu tinta, begitulah selalu ada kuda datang lelah membawa berita kemenangan aku ingat kau aku tulis baris-baris ini bagimu.

Waktu senggang sehabis kerja tugas perang, angin musim gugur hujannya dan dinginnya menggigit lalu seorang mendengar suara siul yang sampai dari bukit para gerilya sudah kembali dan aku gembira bahwa anggur, cukup banyak untuk mereka.

Hari kelima belas di bulan pertama bulan bulat besar dan sungai di jauh an bagai berlari lurus mendaki langit tinggi dalam kabut kita diskusi kerja bagi pertempuran kita dan seluruh perahu meluncur bersama cahaya bulan.