Arsip Tahun 1959

Membela Perdamaian Berarti Membela Hari Depannya

Ratu Aminah Hidajat
Api Kartini, 1959, No. 7 Th. 1, pp. 11, 13

Tak ada kiranya seorang Ibu yang tidak menginginkan anaknya senantiasa riang gembira dan bahagia. Setiap Ibu tentu sering kali merenungkan hari depan anaknya, sering kali memimpikan bahwa anaknya kelak pasti menjadi “orang”. Betapa banyak harapan-harapan yang tersimpul dalam kata sederhana ini.

Untuk inilah Ibu dengan tak kenal lelah membanting tulang mengurus rumah tangga dan/atau mencari nafkah. Untuk ini, Ibu sering kali tak mengejapkan mata bermalam-malam agar bisa menghadapi anak terbaring sakit, untuk ini Ibu acap kali mengorbankan seribu satu kepentingan dirinya sendiri, agar dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan anaknya. Setiap Ibu pula tidak akan tinggal diam bilamana anaknya dalam bahaya dan terancam jiwanya.

Sifat-sifat keibuan ini adalah universal, adalah sama di seluruh dunia. Oleh karena itu pula, maka di semua benua, kaum ibu dan wanita yang menyadari bahwa masih ada golongan-golongan yang ingin mencetuskan perang dunia baru, telah bangkit dan bersatu dalam gerakan untuk membela perdamaian dunia.

Selama beberapa tahun belakangan ini, suatu perjuangan yang sengit telah berlangsung di dunia kita antara yang membela perdamaian dan yang ingin melancarkan perang. Kaum penganjur perang yang haus akan percekcokan dan pertentangan antara rakyat-rakyat di dunia, karena dari sinilah mereka hidup, telah dan masih terus menghambur-hamburkan sejumlah besar uang rakyatnya untuk membuat senjata-senjata yang ganas, yang dalam sekejap mata saja dapat menghancurkan satu kota dengan segala isinya.

Bom atom pertama yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat di atas kota-kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang, telah meninggalkan bekas-bekas mautnya, yang sampai kini pun masih nyata. Tidakkah sampai sekarang pun kita masih mendengar tentang kematian-kematian di Jepang, akibat radiasi atom dari letusan bom atom 14 tahun yang lalu? Betapa berita-berita tentang akibatnya tidak mengerikan. Dengan sekaligus bom tersebut membunuh 247.000 manusia di Hiroshima. Korban-korban lain yang tak terbunuh seketika itu, mendapat luka-luka, kulit muka dan lengan terbakar sedemikian rupa hingga mereka tidak dapat dikenal lagi. Pada sejumlah wanita, bahkan motif kembang bajunya seakan-akan dicap dan berbekas pada kulit punggungnya oleh suhu yang begitu tinggi yang ditimbulkan oleh bom tersebut.

Terdapat anak-anak yang 8 tahun setelah letusan bom tersebut, dengan sekonyong-konyong menderita sakit anemia (kekurangan darah merah), yang kemudian hanya dapat hidup terus selama beberapa hari dengan mendapat transfusi darah, tetapi akhirnya menemui ajal seraya mengeluarkan banyak darah dari mulut dan hidung.

Sudahkah penganjur-penganjur perang puas dengan hasil pembuatan senjata-senjata pembunuh massal itu? Tidak, mereka bahkan masih berusaha menyempurnakan daya membunuh dari senjata-senjata itu, dengan menggunakan bahan-bahan yang lebih ganas dan mengerikan hasilnya, ialah apa yang kini dikenal dengan nama bom hidrogen dan senjata-senjata nuklir pada umumnya.

Sampai pada tahun 1958 negara-negara besar yang memiliki senjata-senjata nuklir itu, ialah Amerika Serikat, Inggris dan Uni Soviet, telah melakukan percobaan-percobaan bom-bom nuklirnya. Pembaca mungkin masih ingat bahwa pada tahun yang lalu Uni Soviet secara sepihak telah menghentikan percobaan nuklir itu, dengan harapan agar diikuti oleh negara-negara besar lainnya. Sayang sekali bahwa hal ini tidak terjadi, tetapi akhirnya karena desakan-desakan dari kekuatan-kekuatan cinta damai di berbagai dan banyak negeri terlaksana juga Konferensi antara ketiga negara besar tersebut untuk mengakhiri percobaan-percobaan bom nuklir, ialah konferensi yang sampai sekarang masih berjalan terus di Jenewa — negeri Swiss.

Wanita Indonesia tidak mau ketinggalan dalam menyatakan pendapatnya mengenai hal ini. Ibu Ratu Aminah Hidajat yang kiranya mewakili semua wanita Indonesia yang cinta damai dan ingin bersahabat dengan semua bangsa di dunia, telah mendatangi suatu Musyawarah Wanita Internasional Untuk Perlucutan Persenjataan, yang diadakan pada tanggal 11 Desember ini di Kungälv — Swedia.

Pada banyak kesempatan sebelumnya, wanita Indonesia sudah menunjukkan tanggung jawabnya terhadap hari depan anak-anaknya dengan jalan pernyataan-pernyataan membela perdamaian yang dikirim kepada pemerintah-pemerintah negara-negara Besar maupun kepada PBB.

Komite Ibu Indonesia menentang Bom A-H pada bulan ini juga telah mengirim sebuah surat terbuka kepada Sidang Majelis Umum PBB untuk memperkuat resolusi negara-negara kelompok Asia Afrika yang meminta Perancis membatalkan niatnya untuk melakukan percobaan nuklir di gurun Sahara, sesuatu yang secara nekad mau diteruskan dalam bulan Maret tahun 1960.

Perjuangan membela perdamaian masih harus terus dilakukan dengan segenap kemampuan kita, dengan segenap kemauan baik kita, demi keselamatan dan kebahagiaan turun-temurun kita.

Profesor Joliot-Curie almarhum yang pernah menjabat Ketua Dewan Perdamaian Dunia telah menjelaskan, bahwa kekayaan-kekayaan alam dan jam kerja yang digunakan dalam pembuatan senjata-senjata ganas menyebabkan adanya ketidakseimbangan ekonomi yang besar. Apabila kekayaan-kekayaan ini dan jam kerjanya ini diabdikan kepada ilmu dan lain-lain tujuan damai, keamanan material dari setiap manusia akan bisa ditingkatkan. Penyakit-penyakit berbahaya yang hingga kini belum teratasi, akan dapat dikurangi. Kelaparan atau kekurangan makan dapat dihilangkan. Gambar di sebelah menunjukkan dengan jelas, betapa benarnya ucapan Profesor Joliot-Curie almarhum.

- Radioaktivitas yang sudah ditimbulkan hingga kini akan menyebabkan 140.000 orang mati dari leukemia dan kanker pada tulang serta kira-kira 1 juta orang mati akibat bermacam-macam penyakit kanker.

- Setiap bom besar dapat mengakibatkan 15.000 anak-anak abnormal yang lahir.

- Karbon-14 yang sudah ditimbulkan oleh letusan-letusan bom-bom nuklir, dapat mengakibatkan 1.250.000 anak menjadi abnormal.