Arsip Tahun 1959

Kesan Dr. Hurustiati Subandrio dari Kopenhagen

-
Api Kartini, 1960, No. 4 Th. 2, p. 10

Ibu Hurustiati Subandrio, ketua delegasi wanita Indonesia ke Musyawarah Wanita Internasional di Kopenhagen baru-baru ini, menerangkan dalam percakapan khusus dengan Redaksi Api Kartini, bahwa yang amat mengesankan kepadanya di musyawarah itu, adalah perhatian dan penghargaan yang besar sekali terhadap Indonesia, yang diperoleh baik dalam musyawarah maupun dari masyarakat Kopenhagen sendiri.

Sebagai anggota Presidium Musyawarah, Ibu Hurustiati telah mendapat kehormatan untuk memimpin sidang pleno Musyawarah pada hari pertama, ialah pada hari 21 April, ketika semua wanita Indonesia di tanah air sedang memperingati hari lahirnya perintis jalan emansipasi wanita Indonesia Ibu Kartini. Diterangkan oleh Ibu Hurustiati bahwa berhubung pembukaan sidang pleno pertama jatuh bertepatan dengan Hari Kartini, maka oleh delegasi Indonesia hal ini dikemukakan kepada pimpinan Musyawarah dan hasilnya ialah bahwa Musyawarah Wanita Internasional di Kopenhagen itu mengirim suatu telegram ucapan selamat kepada wanita Indonesia.

Penghargaan yang diberikan kepada Indonesia juga tampak dari kenyataan bahwa Indonesia telah terpilih untuk menduduki berbagai tempat yang penting selama Musyawarah itu berjalan, kata Ibu Hurustiati. Ia sendiri umpamanya telah menjadi Ketua Komisi Pendidikan dan Kebudayaan, anggota-anggota delegasi Indonesia lainnya, umpamanya Nyonya Handoko dibantu oleh Nyonya Utomo Ramelan, telah menempati kursi Wakil Ketua Komisi Hak-hak Wanita; Nyonya Suriadarma dipilih untuk duduk dalam Komisi Resolusi; ialah Komisi yang mengumpulkan seluruh hasil-hasil Musyawarah.

Tadinya, kata Ibu Hurustiati, pemerintah Denmark yang ibu kotanya dijadikan tempat berkumpulnya wakil-wakil dari 73 negeri itu, tidak begitu menaruh perhatiannya kepada Musyawarah. Tetapi akhirnya ada pula ditundukkan perhatiannya, ialah dengan diadakannya suatu resepsi oleh satu-satunya Menteri wanita dalam Kabinet Denmark, yaitu Menteri Agama, untuk menghormati wakil-wakil Musyawarah sebanyak 20 wanita. Di sini pula Indonesia ikut terpilih dan di antara 20 wanita yang memenuhi undangan Menteri wanita itu adalah Ibu Hurustiati sendiri.

Ketika ditanyakan mengenai kesan umum yang diperolehnya Ibu Hurustiati menyatakan bahwa Musyawarah ini mengingat sifat dan luasnya, adalah sangat penting, oleh karenanya adalah penting sekali pula bahwa Indonesia dapat mengirim delegasinya yang representatif.

Ibu Hurustiati mengatakan bahwa Musyawarah ini mendapat perhatian besar dari Kaum Wanita negara-negara muda. Banyak di antara mereka dari Afrika, Kuba, Irak, dan lain-lain memerlukan datang. Dalam pidato-pidatonya mereka menegaskan bahwa hak kerja dan hak akan pendidikan haruslah sama bagi wanita dan laki-laki. Utusan-utusan dari Amerika Latin umpamanya mengatakan bahwa hak akan pendidikan di sana belum sama. Wanita yang terjun dalam berbagai lapangan pekerjaan, umpamanya bisa menjadi pekerja biasa tetapi masih sukar baginya untuk menjadi insinyur.

Perhatian besar ditunjukkan pula oleh kaum wanita dari negeri-negeri yang tua, umpamanya Austria, Perancis, Inggris.

Musyawarah berjalan dalam suasana persahabatan wanita sedunia yang meriah, terutama pula karena ketika itu di Kopenhagen adalah musim semi, di mana semua tumbuhan mulai menghijau kembali dan semua bunga-bunga mulai mekar, demikian Ibu Hurustiati. Pada pembukaan Musyawarah suatu orkes besar kota Kopenhagen dengan dirigen seorang wanita pula telah memberi konsernya. Persahabatan dipererat lagi dengan tukar menukar tanda mata-tanda mata. Wanita Denmark bekerja keras sekali untuk penerimaan tamu-tamunya yang sekian banyak itu. Dalam malam kesenian di mana juga Indonesia ikut serta ialah dengan sumbangan Saudari Effie Tjoa salah seorang peserta delegasi Indonesia, terdapat pula suatu nyanyian bersama oleh pemuda pemudi Denmark, yang antara lain mendengarkan pula lagu Indonesia Satu Nusa Satu Bangsa. Suatu penghargaan lain yang menyenangkan, demikian Ibu Hurustiati.

Akhirnya ia menceritakan bahwa sebanyak 94 negara diundang untuk ikut serta dalam Musyawarah ini. Sekretaris Jenderal Komite penyelenggara adalah Nyonya Carmen Zanti, ialah Sekjen Gabungan Wanita Demokratis Sedunia, yang belum lama berselang mengunjungi Indonesia dalam rangka Sidang Biro GWDS yang diadakan di Jakarta.

Anggota-anggota Presidium yang berhalangan datang adalah Puteri Kamboja berhubung dengan wafatnya Raja Kamboja baru-baru ini dan juga yang tidak datang adalah Nyonya Eaton dari Amerika Serikat berhubung dengan akan adanya pemilihan Presiden baru di negerinya. Tetapi Amerika Serikat (teks selanjutnya hilang, akan diupdate apabila sudah ditemukan lanjutannya).