Berdjuta2 Wanita di Luar Negeri dibelakang perdjuangan Kemerdekaan Rakjat Indonesia
Ketika meriam-meriam Belanda dengan kejamnya dihadapkan kepada rakyat Indonesia, ketika mereka dengan membabi buta memuntahkan peluru-pelurunya dan menewaskan ratusan ribu pemuda-pemuda, anak dari suami-suami kita, yang dengan tekad bulat membela kemerdekaan dan keadilan tanah airnya sampai tetes darahnya yang penghabisan, maka ketika itu berita tentang pengorbanan serta semangat perjuangan dari kaum ibu dan wanita Indonesia telah berkumandang jauh di luar batas-batas tanah air kita, menggetarkan hati jutaan wanita, di luar negeri pula.
Berita ini mencapai kaum ibu dan wanita di Eropa, di negeri-negeri Perancis, Belgia, Cekoslowakia, Uni Soviet, Polandia, dll. yang ketika itu baru 2 tahun dibebaskan dari kekejaman perang, yang dipaksakan atas rakyat-rakyat mereka oleh kaum fasis Jerman Hitler.
Siksaan-siksaan di luar batas perikemanusiaan, yang dialami mereka sendiri di kamp-kamp konsentrasi Jerman Hitler, kehilangan akan suami-suami tiang penyandar kebutuhan kekeluargaan mereka, tewasnya anak-anak mereka yang tidak berdosa oleh berpuluh ribu senjata-senjata perang modern, masih segar dalam ingatan mereka.
Kesemua-semuanya inilah yang telah menjadi pendorong untuk dihimpunkannya segenap tenaga anti-fasis dan anti-perang ke dalam suatu organisasi wanita internasional ialah Gabungan Wanita Demokratis Sedunia. “Segala peperangan tak ada gunanya, karenanya lenyaplah mereka.” “Lenyaplah segala ketidakadilan!”. “Perdamaiannya harus dipertahankan dan dipelihara untuk selama-lamanya demi kemudian bahagia bagi anak-anak dan keturunan kita”, demikianlah semboyan-semboyan GWDS yang serta-merta disokong oleh jutaan wanita di benua Eropa maupun di lain-lain benua, termasuk benua Asia yang juga baru mengalami siksaan dan penindasan kaum fasis Jepang.
GWDS MENDUKUNG
Karenanya tidak mengherankan bahwa ketika pemerintah Belanda melancarkan agresi dan perang kolonialnya yang kejam terhadap rakyat dan pemerintah R.I., GWDS merupakan organisasi internasional yang pertama yang menyatakan dukungannya kepada perjuangan rakyat Indonesia, dengan jalan mengirim suatu pesan kepada Perserikatan Bangsa-bangsa:
Pesan GWDS yang kita kutip dari Bulletin Informasi GWDS No. 26/Th. II bulan September 1947 yang mencerminkan ketetapan hati jutaan wanita itu untuk tidak lagi membiarkan peperangan berlangsung di manapun juga, antara lain berbunyi sebagai berikut: “...Dengan kekhawatiran yang sedalam-dalamnya Gabungan Wanita Demokratis Sedunia mengikuti agresi yang kejam dari pemerintah Belanda terhadap Indonesia.
Agresi demikian itu bukan saja bertentangan dengan semangat keadilan, tetapi merupakan bahaya terhadap perdamaian di dunia dan keamanan, karena apabila di satu negeri perdamaian diserang, di mana saja ia terancam.”
“...kita inginkan agar diciptakan perdamaian yang sesungguhnya di dunia dan bukan suatu gambaran perdamaian di mana masih tetap ada sisa-sisa perang.”
“Perdamaian demikian itu hanya bisa diciptakan di Indonesia dengan pengakuan terhadap kemerdekaan dan keadilan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda.”
Dua tahun kemudian dalam tahun 1949, sekali lagi GWDS menunjukkan setia kawannya dengan jalan mengirim sebuah telegram kepada pemerintah Belanda dan “menuntut segera dihentikannya peperangan terhadap Republik Indonesia dan serangan terhadap hak-hak bangsa-bangsa”.
Ketika itu GWDS baru menghimpun 80 juta kaum wanita dari 56 negeri. Sekarang organisasi wanita anggota GWDS sudah tersebar di semua benua dan meliputi 70 negeri dengan jumlah 200 juta wanita yang mendukung cita-citanya, termasuk Indonesia di mana Gerakan Wanita Indonesia (GERWANI) menjadi salah satu anggotanya.
Alangkah besar kekuatan dari kaum wanita sedunia yang berada di belakang perjuangan yang adil bangsa Indonesia. GWDS sampai kini merupakan satu-satunya organisasi wanita internasional yang dengan seksama mengikuti perjuangan kita untuk mencapai kemerdekaan yang penuh serta ia tetap mendukungnya.
JUGA WANITA BELANDA
Berbeda dari pemerintah kolonial Belanda yang hingga kini masih saja berkeras kepala dan mempertahankan penjajahannya atas Irian Barat, maka di negeri Belanda sendiri terdapat kaum ibu dan wanita Belanda, kebanyakan para pekerja wanita dan istri-istri buruh, yang mendukung perjuangan kemerdekaan kita. Terutama pada saat-saat adanya pengiriman kesatuan-kesatuan tentara untuk datang menyerang tanah air kita, kaum ibu dan wanita Belanda yang tergabung dalam Nederlandse Vrouwenbeweging – Persatuan Wanita Belanda telah mengadakan usaha-usaha yang luas untuk memprotes pengiriman-pengiriman itu. Atas dorongan dan bantuan NVB ini para orang tua dari pemuda-pemuda Schoonhoven yang akan dikirim ke Indonesia, membentuk suatu Komite Aksi.
Mereka berhasil mengumpulkan berpuluh ribu tanda tangan dalam tiga hari, dan mengirimkannya kepada Menteri Pertahanan sebagai protes atas pengangkutan anak-anak Schoonhooven ke Indonesia untuk berperang.
Dukungan wanita Belanda yang cita-citanya sejalan dengan kita bukan saja pada waktu perang kolonial dilancarkan oleh pemerintahnya. Pada banyak kesempatan NVB dengan setia dan konsekuen membela pendiriannya. Dalam bulan Juni tahun ini NVB mengirim lagi suatu protes pada pemerintahnya yang ingin mengubah undang-undang wajib militer untuk mendapatkan dasar yang lebih kokoh bagi pengiriman kesatuan-kesatuan tentaranya ke Irian Barat. Di dalam protesnya itu NVB juga mendesak pemerintahnya untuk menjelaskan masalah-masalah pertentangan dengan Indonesia lewat perundingan dan jalan damai.
MENDUKUNG IRIAN BARAT KEMBALI KE R.I.
Berbicara tentang perjuangan rakyat Indonesia untuk mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah Republik Indonesia, maka tentang adil dan benarnya perjuangan ini sudah pula tersebar luas di kalangan wanita berbagai negeri.
Ketika perjuangan Irian Barat mencapai tingkatan di mana tindakan ambil alih dilakukan dengan gagah beraninya oleh kaum buruh Indonesia, yang kemudian disusul dengan ketentuan pemerintah R.I. untuk menasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda, maka peristiwa ini tidak luput pula dari perhatian organisasi-organisasi wanita di sejumlah negeri. Kaum wanita Sudan, RRT, Uni Soviet, Cekoslowakia, Vietnam dengan perantaraan organisasi-organisasi wanitanya telah mengirimkan pernyataan-pernyataan mendukung perjuangan itu. Demikian pula pada kesempatan-kesempatan lain, umpamanya hari ulang tahun Republik Indonesia, atau lain-lain peristiwa penting dalam gerakan wanita Indonesia, pernyataan-pernyataan setia kawan senantiasa diterima dari organisasi-organisasi wanita luar negeri ini.
Pada ulang tahun ke-30 berdirinya gerakan wanita Indonesia, organisasi wanita Bulgaria mengirimkan ucapan selamat pula dan “mengharapkan sukses besar dalam perjuangan kemerdekaan nasional yang heroik, untuk persamaan hak dan perdamaian serta kebahagiaan anak-anak.”
Pernyataan-pernyataan setia kawan dari kaum wanita berbagai negeri pada saat-saat yang menentukan dalam revolusi kita, memang mempunyai peranan yang tidak kecil dalam ikut mempengaruhi opini dunia dan mengajak rakyat-rakyat negeri-negeri lain untuk memihak kepada hasrat serta cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu patutlah kita mengenangkannya juga dalam “memperingati ulang tahun Republik kita yang ke-14 ini.”