Arsip Tahun 1960

Clara Zetkin, Pelopor Gerakan Wanita Sedunia

-
Api Kartini, 1960, No. 3 Th. 2, pp. 6-7, 23-24

5 Juli 1857. Pada hari itu suami istri Gottfried dan Josephine Eiszner dikaruniai seorang anak perempuan yang mereka namakan Clara.

Dalam kenang-kenangan penduduk desa Widerau tempat Clara dilahirkan, yang terletak di pegunungan Erz negeri Jerman, ia semasa kecilnya sering dilukiskan sebagai seorang gadis kecil dengan rambut jagung terjalin dalam lipatan yang tebal dan dengan mata jernih berwarna coklat, yang mencahayakan sinar amarah setiap kali ia melihat sesuatu yang menurut pendapatnya tidak adil. Clara adalah anak yang selalu riang gembira, yang senantiasa penuh daya berbuat, yang suka bersahabat dan cepat bersedia menolong orang lain. Dalam permainan dengan anak-anak temannya sedesa, Clara tentu menjadi pemimpin mereka yang tak terkalahkan, dan makin asyik permainannya makin senanglah ia. Baginya tak ada pohon yang terlalu tinggi ataupun selokan yang terlalu lebar.

Ayah Clara, Gottfried Eiszner adalah seorang guru yang sangat cinta dan merasa bertanggung jawab terhadap anak-anak yang di bawah asuhannya. Demikian pula ia sangat erat hubungannya dengan orang tua mereka, rakyat di desa tersebut. Ia memahami dan menjalani kehidupan mereka yang serba miskin dan sengsara. Clara beserta dua saudaranya, sering diajaknya mengenal alam di sekitar desa mereka, dengan demikian mengajar mereka menghargai dan mencintai keindahan alam tanah airnya sendiri.

Ibu Clara, Josephine Vitale adalah putri Jean Dominique Vitale yang berketurunan keluarga pedagang berdarah campuran Italia-Perancis dan yang menjadi salah seorang penyokong yang kuat dari Revolusi Perancis. Cerita-cerita tentang revolusi Perancis ini yang diwarisi Josephine dari ayahnya, kemudian dilanjutkan kepada anak-anaknya. Dan terutama Clara sangat tertarik kepada cerita-cerita ibunya tentang kebebasan, persamaan dan persaudaraan itu.

Suami-istri Gottfried dan Josephine Eiszner adalah kedua-duanya manusia yang berperasaan sosial yang dalam pula. Anak-anak mereka mulai kecilnya dipelajari untuk suka memberi pertolongan kepada semua yang membutuhkannya. Mereka sendiri suka mengajar Clara serta saudara-saudaranya ke rumah-rumah penduduk desa yang paling miskin, ke rumah-rumah buruh tani dan tukang-tukang rajut kaus kaki (yang ketika itu merupakan pekerja tangan yang bekerja di rumah - huis-industrie).

Demikianlah maka Clara sejak kecil diajar memperhatikan nasib kaum buruh dan tani, mengenal dan melihat kesengsaraan, kemiskinan, kelaparan dan penderitaan mereka itu. Di sinipun Clara mendengar seribu satu macam keluhan terutama dari kaum ibu dan wanita rakyat pekerja yang dari pagi buta sampai jauh malam bekerja dengan punggung membungkuk dan tanpa sinar kebahagiaan pada mata mereka............. Segala apa yang dilihat Clara yang menunjukkan penderitaan dan ketidakadilan sosial itu sangat berkesan kepadanya dan sejak masa muda Clara sudah timbul pertanyaan dalam kalbunya: apa sebabnya semua ini? ?

Juga sejak masa mudanya Clara sudah menunjukkan kecerdasan otak yang besar. Ia sangat gemar membaca dari karya-karya Goethe, Schiller, Shakespeare, Dickens, Byron, pujangga-pujangga besar yang sudah mulai mengupas kepincangan-kepincangan dalam masyarakat. Tetapi yang paling menarik perhatiannya adalah antara lain buku tentang Revolusi Perancis, revolusi yang telah mengumandangkan seruan kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan.

Ketika Clara berumur 16 tahun ia beserta keluarganya pindah ke kota Leipzig, kota yang menjadi pusat gerakan kaum buruh Jerman. Di sini ia meneruskan pelajaran ke sekolah menengah, yang ditamatkannya secara gilang gemilang juga. Sementara ini mulailah sampai ke tangan Clara beberapa harian-harian yang dipimpin oleh kaum buruh. Di sini Clara dapat membaca tidak saja tentang penghisapan-penghisapan yang dialami kaum buruh, tetapi juga tentang apa sebab-sebabnya. Di sini Clara menemukan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kalbunya semasa mudanya. Dari sini Clara dapat memahami bahwa susunan masyarakat kapitalis juga menjadi sebab penghisapan dan penderitaan kaum pekerja, merupakan ketidakadilan yang besar, namun bukan itu saja, tetapi bahwa susunan demikian itu pasti dapat ditumbangkan. Seruan untuk mendirikan masyarakat baru tanpa penghisapan manusia atas manusia lain, di mana terdapat keadilan bagi semua, meresap dan mendapat tempat yang kokoh dalam jiwa Clara. Ia mulai memandang sosialisme tidak hanya sebagai suatu cita-cita, melainkan suatu tujuan. Sementara ini Clara telah menggabungkan diri dalam grup-grup diskusi yang dipimpin oleh orang-orang revolusioner, penyebar cita-cita sosialisme ketika itu.

Di sini lah ia berkenalan dengan seorang revolusioner Rusia Ossip Zetkin, yang ketika itu menjadi mahasiswa di Leipzig pula. Daripadanya Clara belajar lebih banyak lagi tentang cita-cita sosialisme, ia memberinya tulisan Manifesto Partai Komunis untuk dipelajari, dan dengan perantarannya Clara menemukan jalan untuk menggabungkan diri pada gerakan buruh Jerman, yang ketika itu dipimpin oleh Partai Sosial Demokrat. Di antara kedua manusia muda ini tumbuh persahabatan yang akrab berdasarkan persamaan tujuan ialah cita-cita pembebasan umat manusia seluruhnya dari penghisapan dan penindasan.

Sementara ini penguasa Jerman ketika itu mulai mengambil tindakan-tindakan anti-demokratis terhadap mereka yang membela kepentingan rakyat, khususnya kaum buruh. Dalam bulan Oktober 1878 mereka berhasil membuat berlakunya undang-undang yang melarang semua organisasi-organisasi yang dipimpin kaum sosial demokrat. Sampai harian-hariannya diberangus, orang-orang revolusioner menjadi kejaran polisi. Demikianlah maka juga Ossip Zetkin sebagai orang asing diusir dari Jerman. Ia meninggalkan Leipzig untuk kemudian menetap di Paris. Pada kesempatan berpisah maka Ossip dan Clara baru menyadari bahwa sesungguhnya mereka telah terikat pula oleh tali percintaan, tetapi keadaan ketika itu belum memperkenankan mereka melanjutkan hidup bersama.

Tidak lama setelah Ossip Zetkin meninggalkan Leipzig, Clara yang sementara itu sudah kehilangan ayah-ibu, juga meninggalkan Jerman berhubung sempitnya ruang gerak bagi pejuang-pejuang revolusioner. Mula-mula ia pergi ke Austria, kemudian ke Swiss, di mana sementara ia dapat mengambil bagian dalam pekerjaan revolusioner. Di samping pengalaman yang didapatnya, Clara dengan tekun mempelajari tulisan-tulisan revolusioner. Ia belajar mengenal beberapa pemimpin gerakan buruh yang dengan teguh membela persamaan hak antara wanita dan laki-laki. Dari pembicaraan-pembicaraan dengan mereka Clara belajar dengan lebih mendalam tentang kehidupan buruh wanita, yang sudah mulai bangkit melawan nasibnya, membela hak-haknya, yang sudah mulai menunjukkan kemampuannya sebagai organisator dan agitator di pertemuan-pertemuan. Ini semua dan juga buku August Bebel "Wanita dan Sosialisme" membantu Clara untuk meyakini bahwa perjuangan emansipasi wanita dan perjuangan melawan kesengsaraan, perjuangan untuk menghentikan penindasan dari manusia atas manusia merupakan satu perjuangan.

Ketika Clara dapat meninggalkan pekerjaannya di Swiss itu, ia bertolak ke Paris untuk kemudian melanjutkan hidup di samping Ossip Zetkin. Di sini Clara Zetkin belajar mengenal dengan sungguh-sungguh beratnya kehidupan perjuangan revolusioner dalam pembuangan. Terutama setelah keluarga Ossip dan Clara Zetkin bertambah besar dengan kelahiran dua orang anak laki-laki. Untuk dapat menyambung hidup seluruh keluarga Ossip dan Clara harus bekerja dengan keras mencari sekadar nafkah. Dengan segala kekurangan yang ada Clara berusaha memelihara dan meliputi anak-anaknya dengan segala kemesraan dan kasih sayang seorang ibu. Hari kerja bagi Clara untuk memenuhi pekerjaan rumah tangga di samping mencari nafkah mulai di pagi buta dan berakhir jauh malam. Walaupun demikian ia mencari waktu untuk belajar dan mengambil bagian dalam grup-grup diskusi kaum revolusioner dari berbagai negeri yang berkumpul di Paris. Kehidupan yang sangat sulit itu tidak melemahkan semangat Clara, sebaliknya lebih menebalkan tekadnya untuk perjuangan.

Melihat dan merasakan sendiri kepahitan hidup bagian terbesar kaum ibu wanita dalam masyarakat kapitalis, makin teguhlah keyakinan Clara Zetkin bahwa kaum pekerja wanita harus ditarik ke dalam perjuangan kaum buruh untuk kebebasannya, lebih dari itu, bahwa barisan-barisan wanita ini adalah juga menentukan bagi kemenangan perjuangan kaum buruh.

Januari tahun 1889, tahun di mana rakyat Perancis merayakan ulang tahun ke-100 pecahnya revolusi Perancis, merupakan saat yang gelap bagi Clara dan kedua anaknya, ketika Ossip Zetkin setelah menderita sakit beberapa lamanya, meninggal dunia. Pukulan ini begitu berat dirasakan Clara sehingga ia sendiri jatuh sakit keras. Namun segera pula berkat kemauannya yang bagaikan baja, rasa tanggung jawabnya terhadap perjuangan dan anak-anaknya serta rasa optimisnya, ia dapat sembuh kembali dan bekerja kembali setelah ia pulang ke Jerman bersama anak-anaknya dan menetap di Stuttgart.

Adalah di Stuttgart ini bahwa Clara menjadi pemimpin redaksi suatu majalah yang bernama "Gleichheit" atau "Persamaan", ialah yang bertujuan membawa kesadaran kepada kaum wanita mengenai hak-haknya, mengenai persamaan haknya dengan laki-laki dan mengenai tempatnya dalam masyarakat serta membangkitkan keyakinan mereka bahwa semuanya ini harus diperjuangkan dengan berani dan gigih. "Gleichheit" adalah majalah wanita yang telah memegang peranan sangat besar dalam menyebarkan cita-cita emansipasi wanita.

Sejak itu Clara mengabdikan segenap tenaga dan pikiran pada pemecahan masalah ini. Di kala itu boleh dikatakan bahwa gerakan emansipasi wanita baru merupakan tunas muda yang masih mencari jalannya untuk tumbuh dan berkembang. Clara dan kawan-kawannya seperjuangan harus bekerja keras untuk mengatasi seribu satu macam kesukaran dan tentangan yang dialaminya dalam masyarakat ketika itu, yang tidak setuju kepada emansipasi wanita. Dengan tidak mengenal lelah Clara bekerja, ia bergaul rapat dengan wanita dan ibu pekerja, ia menyelami kesukaran hidup mereka sampai sekecil-kecilnya, ia berbicara dengan mereka dan berbicara pula di banyak pertemuan-pertemuan, seringkali dengan ancaman polisi terhadap kemerdekaan pribadinya. Berkat keuletan dan kegigihannya, gerakan ini mulai mendapat pengakuan dan dukungan yang kuat.

Sekalipun kegiatan-kegiatan perjuangannya meminta hampir segenap waktunya, Clara tidak melalaikan pendidikan anak-anaknya sendiri. Dengan mengorbankan kepentingan diri sendiri dan disokong oleh kakaknya, Clara berusaha agar anak-anaknya mendapat pendidikan yang sebaik-baiknya dan bahwa kesehatan mereka senantiasa terpelihara. Namun, kasih sayang Clara terhadap anak-anak tidak hanya terbatas pada anaknya sendiri. Juga anak-anak lain terutama dari buruh dan tani wanita mendapat perhatiannya penuh. Ketika itu kerja anak dan penghisapan tenaga anak sedang luas dijalankan. Kehidupan tanpa cahaya bahagia sedikit pun dari anak-anak ini bagaikan menyayat hati Clara dan mendorongnya menjadi pejuang yang paling gigih melawan kejahatan susunan masyarakat kapitalis itu.

Sementara itu, di kala Jerman telah menjelma menjadi negara militer ketika itu dan persiapan-persiapan perang mulai dijalankan, di saat pada anak-anak mulai ditanam ras superioritas, sovinisme dan kebencian pada bangsa lain, maka dengan sekuat tenaganya Clara berjuang melawan sistem pendidikan demikian ini. Ia bekerja keras untuk meyakinkan kaum ibu dan wanita bahwa merekalah yang pertama-tama berkewajiban menentang pengaruh-pengaruh jahat dari masyarakat kapitalis ini, dan bahwa tugas mereka yang utama adalah mendidik anak-anaknya untuk membela perdamaian dan hari depan umat manusia, untuk berjuang bagi sosialisme dan kemerdekaan gerakan emansipasi wanita ketika itu sudah meluas di banyak negeri-negeri lain di Eropa maupun di Amerika. Mulai timbul hasrat untuk mengadakan suatu pertemuan wanita secara internasional. Pejuang-pejuang mengambil inisiatif. Demikianlah maka dalam emansipasi wanita Jerman dengan Clara sebagai pemimpinnya telah diminta untuk pada bulan Agustus 1907 terjadilah konferensi internasional wanita pertama di Stuttgart dihadiri oleh wakil-wakil 15 negeri di mana Clara Zetkin terpilih menjadi Sekretaris Internasional yang pertama.

Pada konferensi internasional wanita yang kedua dalam tahun 1910 di Kopenhagen yang dihadiri oleh wakil-wakil 17 negeri, maka Clara Zetkin mengajukan usulnya yang kemudian menjadi termasyhur di seluruh dunia, ialah untuk menetapkan suatu Hari Wanita Internasional sebagai hari perjuangan untuk persamaan hak dan untuk perdamaian. Usul ini yang diterima dengan suara bulat telah membuat konferensi Kopenhagen suatu pertemuan yang bersejarah dalam gerakan wanita sedunia.

Setahun kemudian dalam tahun 1911 Hari Wanita Internasional sudah diperingati di 5 negeri ialah Jerman, Austria, Denmark, Swiss dan AS, di mana ketika itu kalau dijumlahkan, tidak kurang dari satu juta wanita berdemonstrasi. Kini Hari Wanita Internasional 8 Maret sudah diperingati di hampir semua negeri di segenap benua di dunia.

Demikianlah hanya beberapa segi saja dari kehidupan dan perjuangan Clara Zetkin 20 Juni tahun 1933 menjelang ulang tahunnya yang ke-76 Clara Zetkin meninggal dunia. Dengan ini bukan saja kaum wanita sedunia kehilangan seorang pejuang besar untuk emansipasi wanita, tetapi dengan ini umat manusia seluruhnya kehilangan pula seorang pejuang yang jujur, berani, ulet dan agung untuk kemerdekaan, untuk hilangnya penindasan manusia dan untuk perdamaian dunia yang abadi.

(Bahan-bahan diambil dari buku "Ein Lebensbild" — Luise Dornemann)