Arsip Tahun 1959

Tokoh Hari Kartini Utami Surjadarma

-
Api Kartini, 1959, No. 1 Th. 1, pp. 6-7

Kali ini kami memperkenalkan Nyonya Utami Surjadarma, seorang tokoh wanita yang namanya sudah tak asing lagi bagi kaum wanita kita. Nyonya Surjadarma adalah seorang ibu dari tiga orang anak.

Sebelum perang (sebelum kawin) menerbitkan sebuah majalah wanita "Pahésan" yang berarti Cermin.

Waktu revolusi masuk organisasi Pemuda Putri Indonesia, juga duduk dalam Badan Kongres Pemuda, untuk sementara menjadi ketua Bagian Penerangan Luar Negeri Kowani.

Waktu pendudukan Belanda (Jogja) mendirikan dapur umum untuk pejuang-pejuang gerilya dan nonkooperator. Di samping itu mengurus tawanan-tawanan perang dan keluarga-keluarganya. Demikian juga mendirikan sekolah di bawah tanah bersama Dr. Priyono dan sebagainya.

Aktivitas-aktivitasnya sekarang antara lain ialah:

a. Menjabat sebagai Wakil Ketua I Yayasan Kesejahteraan Anak-anak dari Kongres Wanita Indonesia.

b. Ketua I Badan Koordinasi Sumbangsih Masyarakat. Sebagaimana diketahui badan tersebut mengirimkan rombongan-rombongan kesenian hiburan ke garis depan.

c. Ketua I Komite Penggerak Seni Angkatan Perang (badan kesenian untuk ketiga Angkatan Perang).

d. Ketua Panitia Garis Depan dari Persatuan Isteri AURI yang mengirimkan bingkisan-bingkisan ke Garis Depan.

e. Ketua Yayasan Perlindungan Purbawisesa. Yayasan tersebut menyelenggarakan asrama-asrama pelajar putri berdasarkan sosial. Sampai sekarang terdapat 2 buah asrama, sebuah asrama dengan ±80 penghuni dan sebuah dengan ±30 penghuni.

f. Ketua Bagian Pendidikan Gerakan Massa Wanita.

Sebagaimana diketahui Nyonya Surjadarma adalah anggota delegasi Wanita Indonesia yang mengunjungi Kongres Ibu Sedunia untuk pembelaan anak-anak, menentang peperangan, untuk perlucutan persenjataan dan persaudaraan di antara rakyat pada tahun 1955 di Lausanne (Swiss).

Beliau juga anggota Komite Perdamaian Indonesia, anggota Gerakan Ibu anti-Bom A & H dan anggota Pleno Dewan Setiakawan Asia-Afrika. Pada rapat pembukaan Pekan Menentang Bom A & H pada tahun 1958 bertempat di Istana Negara, Nyonya Surjadarma mengucapkan pidato sebagai wakil ibu, antara lain demikian:

Kami termasuk golongan yang sampai sekarang oleh masyarakat dunia belum diterima sebagai golongan yang boleh ikut menentukan nasib umat manusia. Hanya golongan negarawan, golongan politisi, golongan militer, golongan yang berpengaruh yang berhak menjatuhkan hukuman kepada umat manusia: hidup atau matinya. Toh golongan kami merupakan golongan yang besar, yang meliputi lebih dari separo umat manusia, yang jumlahnya jauh lebih besar dari jumlah seluruh negarawan, politisi, militer, orang yang berpengaruh bersama. Golongan kami adalah golongan kaum Ibu.

Apabila abad ke-20 dikatakan abad Wanita maka itulah benar. Setapak demi setapak wanita mengambil tempatnya yang wajar dalam masyarakat sekitar, lalu dalam masyarakat bangsanya. Kemudian dalam masyarakat dunia. Bermula mula ia tampil ke muka sebagai individu yang menghadapi persoalannya sendiri-sendiri, kemudian ia muncul dalam suatu gerak dengan sejumlah kawan sependirian dan sependapat untuk memperjuangkan nasib golongannya, dan pada dewasa ini, pada pertengahan abad kedua dunia dikonfrontasikan dengan massa wanita yang ingin didengar dalam soal-soal yang menentukan nasib dunia sendiri. Suara-suara yang pada permulaan kedengaran sayup-sayup dan terpisah-pisah semakin hari semakin kuat didengar dan akan menjadi suatu nyanyian bersama yang indah, suatu Simfoni yang megah: yaitu Simfoni Perikemanusiaan.

Kita berada di ambang pintu masa itu. Dan apa yang menjadi penggerak Simfoni itu, apa yang menjadi penggerak jutaan hati kaum ibu? Temanya adalah sederhana akan tetapi ia menyangkutpautkan inti kehidupannya: yaitu pembelaan anak terhadap ancaman maut disebabkan oleh peledakan Bom Zat Air dan senjata-senjata nuklir. Ancaman ini menjadi titik pertemuan dari ibu-ibu di seluruh dunia dan di dalam hal ini tidak dikenal perbedaan ideologi, aliran, agama, kulit, kebangsaan. Insting untuk membela anaknya pada seorang ibu, di dunia binatang pun, setua dunia sendiri. Apabila anaknya diancam maut, seorang ibu tidak memandang apakah si pengancam itu sesama ideologinya, sesama alirannya, sesama agamanya, ia akan membela anaknya mati-matian. Ia akan membela anaknya dengan titik darahnya yang penghabisan. Inilah bukan suatu keajaiban, inilah soal yang biasa saja, yang sederhana.

Dan bagaimana kita kaum ibu tidak memandang peledakan bom zat air dan senjata nuklir sebagai ancaman maut dan ancaman kehancuran terhadap anak-anak kita dan keturunan kita apabila para sarjana di seluruh dunia sendiri membuktikan bahaya-bahayanya dengan bukti-bukti ilmiah?