Sumbangan Wanita Sedunia Kepada Djamannja
Adalah sangat menarik perhatian untuk mendengarkan sedikit tentang sidang Biro Gabungan Wanita Demokratis Sedunia, GWDS. Sidang berlangsung di kota Praha. Hanya dua hari tetapi cukup menarik dan menggembirakan. Tak hanya mereka yang bersidang yang mempunyai perhatian penuh dan bergembira, tetapi juga kaum wanita lebih dari seratus negeri ikut serta memperhatikan dan mengharapkan keputusan-keputusan yang berguna bagi kepentingan kehidupan.
Kota Mas, Praha yang sudah menghadapi musim rontok masih terlihat indah, bunga-bunga yang menghias seluruh kota masih segar terpandang. Wanita-wanita Cekoslowakia yang sudah tergabung di Komite Wanita berduyun-duyun ke stasiun dengan bunga-bunga yang warna-warni untuk menjemput rombongan GWDS yang datang dari Berlin, di mana Madame Cotton beserta pula. Kereta cepat berhenti. Sejenak menggelora rasa persahabatan Internasional. Peluk, cium dan tawa yang mesra menghangati seluruh rongga dada.
Gedung Komite Wanita yang megah dan artistik telah diatur rapi. Pada waktu yang tepat menurut acara sidang Biro dimulai. Madame Cotton dengan pidato pembukaannya memperingatkan kepada kaum wanita, menekankan kepada katanya, apa tugasnya kaum ibu dalam situasi seperti sekarang ini, terutama apa sumbangannya yang konkret terhadap perjuangan untuk menyelamatkan anak-anak dari bahaya peperangan, demikian juga apa sumbangannya kaum wanita sedunia terhadap situasi sekarang yang ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang besar dalam usaha untuk menciptakan perdamaian dan usaha untuk menyelamatkan umat manusia dari malapetaka hidup yang mengerikan. Peperangan modern dengan atom dan nuklirnya. Dari seluruh pidato, mulai dari Mme. Cotton, Mme. Andrea Andreen, hingga Mme. Nina Popova, menyatakan kehangatannya terhadap kemajuan-kemajuan penting dari hubungan dua negara besar Soviet Uni dan Amerika Serikat yang diwakili oleh kepala-kepala Negara, P.M. Khrushchev dan Presiden Eisenhower. Tukar menukar kunjungan, usul P.M. Khrushchev tentang perlucutan persenjataan total, hingga KTT, semua anggota Biro GWDS menyatakan keinginan dan pendapatnya dengan formulasi-formulasi sederhana, jelas, dan mengandung sesuatu langkah yang positif.
Seluruh anggota Biro berkehendak, bahwa kaum wanita sesuai dengan fungsinya dalam kehidupan masyarakat adalah dinyatakan sebagai pembela hidup dari seluruh umat manusia. Kaum wanita sebagai ibu dari kehidupan mempunyai tugas utama dalam usaha untuk menyelamatkan anak-anak dan generasinya.
Sidang Biro yang mewakili kehendak kaum wanita dari lebih seratus negeri telah menyadari sepenuhnya, bahwa tiap-tiap langkah dalam perjuangan harus disesuaikan dengan keadaan yang dihadapinya. Dalam taraf seperti sekarang ini, perlu dipikirkan bagaimana perjuangan harus dilanjutkan. Langkah apa yang diambil harus berdasarkan syarat-syarat yang ada, agar persoalan dapat dipecahkan.
Soal wanita bukanlah hanya semata-mata tentang perjuangan untuk hak-hak wanita, tetapi adalah berangkai dengan soal-soal yang lain dan lebih hakiki lagi, ialah soal kemerdekaan nasional; demokrasi dan perdamaian. Kaum wanita tidak akan berbicara tentang hak-hak wanita yang penuh, jika kemerdekaan nasional tidak ada. Dan pula, tidak akan bisa berbicara bagaimana kehidupan yang baik bisa diwujudkan, jika dunia telah terjangkit peperangan. Karena itu adalah berarti bahwa perjuangan untuk perdamaian juga perjuangan untuk kemerdekaan nasional; untuk kehidupan anak-anak, hak-hak wanita, dan untuk kebahagiaan hidup sepenuhnya.
Dasar yang satu ini telah dipasang sebagai batu dasar dari pembangunan perjuangan wanita seluruh dunia. Kaum wanita sedunia tidak mau menjadi penyokong yang pasif dari penyelesaian masalah internasional yang urgent yang bahayanya dihadapi oleh seluruh umat manusia. Karena itu dipandang bahwa soalnya sudah jelas, mendukung penuh terhadap adanya perundingan negara-negara besar untuk menyelesaikan persengketaan dunia, dan terutama mengenai persenjataan atom dan pengakhiran perang dingin yang menggelisahkan hati manusia. Termasuk penyelesaian soal Berlin yang masing-masing Negara Besar Uni Soviet dan Amerika Serikat telah mengaku keadaan Berlin tidak normal. Adalah baik sekali jika penyelesaiannya dengan perundingan dan mengajak rakyat Jerman yang telah dihancurleburkan oleh perang fasis Hitler itu berbicara bersama. Perasaannya rakyat Jerman sudah berulang kali dan terus menerus dinyatakan di mana saja, juga demikian pula kaum wanitanya dalam sidang Biro itu, bahwa rakyat Jerman baik mereka yang di Timur maupun yang di Barat menghendaki persatuan, perdamaian kemerdekaan nasional, dan tidak mau mengulang perang, lebih-lebih perang atom. Karena soalnya telah jelas semua, maka soal perlucutan senjata adalah soal penting dan mutlak adanya, demi perdamaian dunia. Untuk itu perlu adanya perundingan tingkat tertinggi. Kaum wanita berpendapat sama, dan perlu diluaskan ke seluruh negeri.
Pertanggungjawaban kaum wanita terhadap persoalan yang prinsipil untuk hidup ini perlu dinyatakan. Disetujui adanya suatu sidang internasional. Sidangnya kaum wanita. Dari sini akar lebih dilancarkan lagi kehendak kaum wanita dalam menghadapi keadaan seperti sekarang ini. Persiapan perlu segera diatur oleh kaum wanita yang telah menjadi pelopor perdamaian.
Bagi kaum wanita Indonesia, tidaklah menjadi soal baru. Perjuangan untuk perdamaian telah satu dengan perjuangan untuk kemerdekaan nasional, hak-hak wanita dan anak-anak. Karena itu sudah ada keyakinan bahwa kontribusi wanita Indonesia nanti juga akan tercermin dalam sidang wanita internasional itu. Kita bersama yakin kiranya. Lebih-lebih yakin lagi jika kita mengingat ide Ibu Kartini di tahun 1901, Ibu Kartini di waktu itu pun sudah mengutuk adanya peperangan kapitalisme di Afrika. Ibu Kartini menggambarkan, betapa korban telah menderita dalam peperangan berdarah itu, anak piatu, janda, luka-luka dan mereka yang mati, semua adalah korban ketamakan Inggris yang tak mengenal batas.
Dirintis dari sejarah, wanita Indonesia betul-betul akan mempunyai kekuatan yang besar dalam perjuangan untuk kehidupan ini.
Banyak hal yang telah dibicarakan, tetapi yang pokok tinggallah satu di samping soal perdamaian, ialah soal dukungannya yang penuh terhadap rencana Peringatan Hari Setengah Abad 8 Maret, Hari Wanita Internasional. Hari yang besar itu akan bersama-sama dihadapi oleh kaum wanita sedunia. Negeri-negeri baru muncul dengan gayanya yang baru, gaya yang memberi harapan hari depan, di benua Asia, Afrika dan Latin Amerika. Alangkah indahnya dunia ini, jika seluruh kaum wanitanya telah bangkit bersama dengan kaum laki-laki dalam masyarakat yang terus berjuang untuk keindahan hidupnya. Biro menyerukan pada seluruh wanita untuk berusaha sekeras-kerasnya, agar peringatan itu menjadi gelanggang umum yang mempunyai arti penting dalam sejarah dunia modern ini.
Biro yang disusul dengan sidang Council, di mana telah hadir 51 negeri dari semua benua ini lebih mengesankan lagi. Saudari Umi Sardjono dan Mudikdio telah menghadiri sesudah kunjungannya ke India dari Tiongkok sebagai Wakil GWDS.
Sidang yang berakhir dengan salam persahabatan hangat memberi kesan yang tak mudah dilupakan. Delegasi berpisah, tetapi dalam hati dan tindakan mereka bersatu padu.