Menengok Sedjenak Kebelakang
Menjelang peringatan Hari Besar Nasional yang bersejarah ini marilah kita menengok ke belakang sebentar kejadian-kejadian 14 tahun yang lampau. Hari 17 Agustus tahun ini tidak hanya mengenangkan kepada kita akan peristiwa-peristiwa besar yang terlukis dalam sejarah, akan tetapi lebih dari itu, terutama dengan semangat kembali ke UUD 45 ini mengenangkan kembali kepada kita akan kekayaan revolusi Indonesia dengan peristiwa-peristiwa kepahlawanan Rakyat yang tak dapat kita lupakan.
Barangkali pembaca sudah sering mendengar ulasan-ulasan kembali tentang detik-detik bersejarah ketika menghadapi pelaksanaan proklamasi, satu dua hari sebelum menjelang 17 Agustus, 17 Agustus pada pagi harinya, dengan segenap kesibukan-kesibukannya. Di antara rentetan peristiwa-peristiwa dan peranan-peranan kepahlawanan itulah tidak pula kita lupakan keberanian pahlawan-pahlawan wanita dan peranan massa kaum wanita yang mengambil bagian dalam peristiwa-peristiwa perjuangan yang menentukan. Ya, sebenarnya peranan wanita yang ikut serta berjuang untuk kemerdekaan nasional tidak hanya semenjak Revolusi Agustus sudah meletus. Sebelumnya itu bukankah kita sudah mendengar tentang wanita-wanita pada pemberontakan tahun 1926 yang dengan senyum di bibir menaiki tiang gantungan dan mereka yang dibuang 15 tahun penjara atau di Digulkan. Dan sesaat menjelang meletusnya revolusi ini, waktu memuncaknya krisis kekuasaan fasis Jepang yang menghadapi keruntuhannya, kita dapat bayangkan betapa kejam tentara Jepang menyiksa dan membunuh Rakyat. Memang tidak banyak terdengar cerita-cerita mengenai wanita yang berjuang mematahkan jeruji besinya kenpetai untuk kemenangan 17 Agustus. Padahal andaikan berjasalah seseorang yang berhasil menggali sejarah kepahlawanan di masa ini, sebenarnya kita di Indonesia tidak kalah mempunyai pahlawan-pahlawan anti fasis. Kita juga mempunyai Julius Fucik dan kita punya Hanni Schaft Indonesia. Hanya saja alat-alat perjuangan di bawah tanah tentunya tak semodern seperti di Eropa. Meskipun demikian dengan tekad dan hanya sumpah berani mati mereka melawan kekuasaan fasis Jepang, sampai datangnya matahari kemerdekaan yang terbit pertama kalinya pada tanggal 17 Agustus 1945.
Lalu masuklah kenangan kita pada fajarnya 17 Agustus sampai seterusnya. Siapa saja yang ingat akan barisan-barisan laskar-laskar tentunya ingat pula bahwa di dalam barisan laskar-laskar itu selalu ada barisan-barisan wanita. Entah ia bekerja dalam palang merah, entah wanita-wanita dulu itu di garis depan bekerja di dapur umum. Pokoknya di mana saja genderang revolusi berbunyi di situ selalu terdapat jejak wanita tak ketinggalan. Pernahkah pembaca mendengar tentang Barisan Wanita Brigade S? Inilah Barisan Gerilya wanita yang paling ditakuti tentara kolonial Belanda. Ada pula seorang gadis dari pasukan PMI dari front Semarang ia bernama Suparmi. Ia adalah anak seorang petani sedang. Setelah keluar dari Sekolah Rakyat selama itu pekerjaannya hanya membantu orangtuanya di rumah. Tetapi begitu keramat seruan tentang panggilan tanah air sehingga ia meninggalkan segala-galanya menggabungkan diri ke dalam pasukan garis depan, sedang orangtuanya, sanak saudaranya mengungsi entah ke mana. Begitu bangga ia berpakaian celana gerilya, baju hijau dengan pitji hitam. Hilanglah seketika sifat-sifatnya pemalu, rasa rendah diri, gayanya semula sebagai gadis desa. Dan gadis ini akhirnya meninggal karena jatuhnya bom yang memutuskan paha sebelah kirinya. Ia meninggal di salah satu front dengan sedikit pun tidak menyesal. Entah apakah ia juga tertulis dalam buku pahlawan.
Pembaca, ada lagi cerita Rakyat di Surabaya. Tapi ada seorang ibu dari 2 orang anak, rumahnya petak dengan 2 kamar kecil-kecil. Begitu mendadak serangan pasukan Gurkha yang menghujani Rakyat dengan peluru dan mortir. Tapi ada seorang ibu bertekad tidak mengungsi dan tinggal tetap dalam rumahnya membantu anak-anaknya yang menjadi anggota pasukan perlawanan Rakyat. Semboyannya dari beras dan jagung untuk peluru dan mortir dan tungku menjadi penyimpannya. Tangannya amat rajin memasukkan peluru-peluru ke dalam lubang brengun. Dan sedikit pun tidak merasa takut tapi ia terpaksa juga meninggalkan tempat tinggal yang dicintainya. Karena rumahnya sudah menjadi abu.
Begitulah dengan bersenjatakan semangat '45 ini, kaum wanita kita yang telah makin sadar akan tanggung jawabnya dalam ikut serta membela keselamatan negaranya, ikut mencapai kemerdekaan nasional serta ikut memelihara demokrasi bersama-sama dengan seluruh Rakyat, mengorganisasi dirinya dalam barisan-barisan yang lebih teratur.
Detik-detik bersejarah mulai dari saat kaum wanita mengorganisasi dirinya dalam Kongres Perempuan Indonesia yang pertama pada tahun 1928 sampai kepada kegiatan-kegiatan serta aksi-aksi mereka dalam perjuangan untuk memelihara perdamaian, pada saat mereka untuk pertama kali menggunakan hak pilih dan dipilih pada tahun 1955, di kala mereka menunjukkan rasa setia kawannya kepada kaum wanita di negeri-negeri lain yang bercita-cita sama dan ketika mereka mengadakan kegiatan-kegiatan untuk menuntut Undang-undang Perkawinan yang demokratis, kesemuanya ini akan tetap bergelora dalam ingatan kita dan menjadi kenang-kenangan yang senantiasa memberi dorongan dan semangat bagi setiap wanita kita untuk maju terus.
Begitulah revolusi memang banyak membawa korban dari Rakyat. Tetapi satu hal bahwa kemenangan adalah pasti dan seperti halnya menjadi kewajiban yang memanggil wanita-wanita kita di seluruh barisan untuk mengambil bagian dalam melakukan perlawanan terhadap Belanda. Maka sekarang ini dalam rangka kembali ke UUD '45 adalah kewajiban kita kaum wanita untuk berjuang terus menegakkan demokrasi dan kemerdekaan Republik Indonesia.